Inilah Ajaran Ahimsa Mahatma Gandhi

AHIMSA BERASAL dari bahasa Sansekrit yang terdiri dari dua kata yaitu “A” dan “Himsa”. Ahimsa biasanya diterjemahkan sebagai tanpa kekerasan. Ahimsa merupakan suatu sifat yang amat khusus dalam terminologi Hindu.

Ahimsa Menurut Mahatma Gandhi

AHIMSA BERASAL dari bahasa Sansekrit yang terdiri dari dua kata yaitu “A” dan “Himsa”Ahimsa biasanya diterjemahkan sebagai tanpa kekerasan. Ahimsa merupakan suatu sifat yang amat khusus dalam terminologi Hindu. Di satu pihak digunakan sebagai sebuah awalan negatif sebelum sebuah kata, di lain pihak untuk mencoba mengekspresikan arti yang sebaliknya dari sebuah kata yang sama. Secara etimologis, “Himsa” berasal dari “Hims” yang berarti melukai, membunuh, merusak, menganggu dan lain sebagainya. Ahimsa kemudian diartikan sebagai sebuah penolakan atas suatu kehendak untuk membunuh atau melukai.[1]

Ahimsa berarti tidak menyakiti. Tetapi menurut Gandhi pengertian seperti itu belum cukup. Ia baru sampai pada taraf permukaan yang paling dangkal dari aspek ahimsa. Dasar pemikiran ahimsa sudah diingkari bagi setiap pikiran jahat atau ketergesa-gesaan, berbohong, rasa benci dan mengharap orang lain celaka. Gandhi menjelaskan bahwa “ahimsa berarti tidak menyakiti insan mana pun, baik dengan pikiran, ucapan dan tindakan, sekalipun konon untuk kepentingan insan itu sendiri”.[2]

Untuk menaati ahimsa, dengan tidak hanya membunuh saja tidaklah cukup, karena bagian aktif dari ahimsa adalah kasih sayang. Hukum kasih sayang menghendaki perhatian yang sama terhadap semua kehidupan dari serangga yang paling kecil sampai manusia. Pengikut asas ini tidak boleh marah sekalipun terhadap pelanggar kesusilaan yang maha berat, tetapi sebaliknya harus kasih padanya, mendoakan kebaikannya dan melayaninya.[3]

Walaupun harus kasih kepada orang yang bersalah, tetapi tidak berarti bahwa harus menyerah pada kesalahan dan ketidakadilan yang dilakukannya. Seorang ahimsaisi harus menentangnya sekuat tenaga dan harus dengan sabar dan tanpa dendam memikul penderitaan yang disebabkan oleh pihak pelanggar kepadanya sebagai imbalan terhadap perlawanannya.[4]

Paham pantang kekerasan merupakan suatu asas semesta dan pelaksanaannya tidaklah terbatas hanya pada lingkungan yang saling bermusuhan. Manfaat dari ahimsa hanya dapat diuji bila diterapkan dalam suatu lingkungan yang ditentang oleh pihak lawan. Gandhi berkata “paham pantang kekerasan kami hanya akan merupakan suatu yang hampa dan tidak bernilai, apabila keberhasilannya tergantung pada kemurahan hati pihak penguasa”.[5]

Syarat bagi keberhasilan kekuatan ini terletak pada kesadaran adanya jiwa yang terpisah dari badan manusia dan sifatnya yang kekal. Kesadaran ini berarti suatu keyakinan yang hidup dan bukan semata-mata suatu keyakinan akal budi.[6] Pada pantang kekerasan keberanian terletak pada kematian, bukan pada pembunuhan.[7]

Ahimsa  secara harfiah berarti tidak membunuh. Namun bagi Gandhi kata ini mempunyai makna yang luas sekali serta tidak terukur jangkauannya. Sebenarnya ahimsa menurut Gandhi berarti bahwa tidak boleh menyinggung perasaan siapa pun, tidak boleh mempunyai pikiran yang buruk walaupun terhadap orang yang mungkin menganggap dirinya musuh kita.[8]

Dalam evolusi manusia, manusia berkembang dari sikap-sikap himsa menuju kedalam praktek-praktek ahimsa. Hal itu dapat kita telusuri dari kehidupan manusia yang mula-mula hidup nomaden (berpindah-pindah). Pada masa itu mereka berburu binatang sebagai makanannya. Setelah mereka tahu bahwa tanah yang mereka injak itu dapat memberi manfaat dan menghasilkan makanan, mereka mulai menetap dan memerlukan pranata untuk hidup bersama dengan rukun dan damai. Mereka mulai tahu tentang arti menghormati sesama dan saling menghargai. Semua itu baru disadari ketika mereka hidup secara sedenter (menetap). Mulai saat itu pulalah manusia hidup secara  ahimsa.[9]

Dalam keadaan sekarang ini, menurut ajaran Hindu, sebagian dari diri hanya sebagian saja manusia, sebagian lagi masih berupa binatang. Barulah kemenangan atas naluri-naluri rendah kita dengan jalan cinta dapat kita matikan kebinatangannya, satu cita-cita yang juga dinyatakan secara pelambang dalam nyanyian pertama Bhagawad Gita. Ahimsa, cinta terhadap semua mahluk, tidaklah semata-mata mengenai manusia, tapi terhadap kehidupan mahluk yang lebih rendah .

Sastra kitab-kitab suci dari Hindu mengajarkan bahwa barang siapa menjalankan ahimsa dengan sungguh-sungguh, maka dia akan melihat dunia di bawah telapak kakinya. Sebegitu dapat merobah batin, maka serentak berubah pula dunia luar, terhenti bahaya-bahaya, lawan menjadi teman. Dalam bentuknya yang nyata ahimsa berarti kemenangan dunia karena cinta dan kasih sayang, kekalahan kejahatan karena kebaikan.[10]

Menurut Gandhi, manusia sebagai binatang itu bersifat himsa, tetapi sebagai roh ia bersifat ahimsa. Itulah sebabnya mengapa ahimsa dapat digunakan sebagai prinsip paling efektif untuk tindakan sosial, karena secara mendalam sesuai dengan kebenaran sifat alami manusia dan sesuai benar dengan keinginan bawaannya akan perdamaian, keadilan, ketertiban, kebebasan dan martabat pribadi. Ahimsa merupakan jalan untuk mengubah hubungan-hubungan agar terlaksana peralihan kekuasaan secara damai, dilakukan dengan sukarela tanpa desakan semua yang bersangkutan oleh karena semuanya mengakuinya sebagai hak.

Pada prinsipnya, ahimsa merupakan dasar kelanggengan kehidupan umat manusia, jika tidak antara satu dengan yang lainnya akan selalu konflik, melukai dan membunuh, maka umat manusia sudah sejak dulu sirna dari atas muka bumi. Dengan demikian apakah ahimsa sudah sepenuhnya ditaati ? Gandhi menjawab belum, sebab setiap ada kepentingan remah yang bertentangan, kita sudah memakai kekerasan. 

Oleh karena ahimsa ada di dalam sifat alami manusia sendiri, maka hal itu dapat dipelajari oleh semuanya, walaupun Gandhi dengan hati-hati menyatakan bahwa ia tidak mengharapkan setiap orang untuk mempraktekkan dengan sempurna. Namun semua orang harus bersedia menanggung resiko dan taruhan bagi ahimsa, karena kebijakan kekerasan tidak saja telah membuktikan kebobrokannya tetapi juga mengancam manusia dengan kemusnahan.
Pandangan Gandhi tentang ahimsa selain telah didapatkan semenjak kecil dalam kaitannya dengan lingkungan dan agama yang dipeluknya, pandangannya juga sangat dipengaruhi oleh masa belajarnya ketika berada di Inggris dan Afrika Selatan berkat seringnya bersinggungan dengan agama-agama lain. 

Bhagavad Gita sebagai kitab suci yang mengilhami Mahatma Gandhi tentang ahimsa merupakan bagian dari Mahabharata, hampir seluruh isinya merupakan percakapan antara Khrisna dan Arjuna yang merupakan guru dan muridnya.[12] Ajaran ahimsa terdapat dalam Bhagavad Gita II bagian 19, yang menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang membolehkan untuk membunuh atau dibunuh : “Sesungguhnya ia yang memikirkan diri sebagai pembunuh, dan dia yang mendapat bahwa ini dapat dibunuh, kedua-duanya adalah bodoh, karena ia tidak pernah membunuh dan dibunuh”.[13]

Ajaran ahimsa tidak hanya terdapat dalam kitab-kitab agama Hindu, tetapi juga terdapat dalam agama Buddha. Dalam Buddha tidak saja melarang membunuh manusia, tetapi mensyaratkan tidak membunuh dan menyakiti kepada semua mahluk lain, tidak hanya orang yang melakukan perbuatan yang menerima ganjaran dari perbuatannya, tetapi juga orang yang menyuruh melakukan pembunuhan itu, orang yang dengan senang hati melihat perbuatan dan membiarkannya, atau orang yang mengambil untung dari perbuatan itu.

Oleh karena itu, Buddha melarang keras pengikutnya untuk memakai pakaian dari bahan-bahan sutera dan kulit. Karena semua itu diambil dengan jalan membunuh mahluk lain yang hidup. Buddha juga mengajarkan ahimsa dengan cara mengalahkan kejahatan dengan kebajikan.

Menurut Mahatma Gandhi, semua agama mengajarkan anti kekerasan. Mahatma Gandhi menyebut Yesus sebagai raja yang mempraktekkan anti kekerasan. Gandhi memberikan penghormatannya kepada Yesus dalam kata-katanya :
Though I cannot claim to be ahimsa Christian in the sectarian sense, the example of Jesus suffering is ahimsa factor in the composition of my unfying faith in non-violence, which ruler all my action wordly and temporal…..Jesus lived and died in vain, if he did not teach us to regulate the whole of life by the eternal law of love.[14]

Mahatma Gandhi juga menyatakan bahwa dalam agama Islam pun sikap anti kekerasan atau ahimsa diajarkan. Ia memberikan kesaksiannya mengenai hal itu, “I have come to the conclusion that the teaching of the Koran is essentially in favour of non violence. Non violence is better than violence, it is said in the Koran. Non Violence is enjoined as ahimsa duty; violence is permitted as ahimsa neccesity”.[15] 

Dengan kepatuhan yang luar biasa, ahimsa juga dijalankan oleh penganut paham Jaina, orang tua Gandhi termasuk penganut paham ini, sehingga sejak lahir ia telah dididik dan dibesarkan menurut dasar-dasar agama Jaina dalam suasana menjalankan ahimsa.

Latar Belakang Munculnya Konsep Ahimsa Mahatma Gandhi

Sebagai seorang Barister muda yang haus akan pekerjaan, Mahatma Gandhi pergi ke Afrika Selatan atas permintaan saudagar kaya India yang sedang berselisih. Gandhi diundang sebagai seorang pengacara untuk membantu penyelesaian kasus tersebut. Dari kesempatan ini, Gandhi memulai karirnya sebagai pelayan masyarakat sekaligus terjun untuk pertama kalinya dalam bidang politik ketika ia menjumpai ketidakadilan dan diskriminasi yang diterima dirinya dan orang-orang India yang ada di Afrika Selatan.

Seminggu setelah kedatangannya di Afrika Selatan, Gandhi diutus untuk menemui pengacaranya dan membahas kasusnya ke Petroria di Transval. Dia naik kereta api kelas satu dengan pakaian ala Inggris. Tetapi ia diusir oleh orang Inggris dan petugas kereta api yang ada di situ dan disuruh untuk pindah gerbong kelas tiga. Ia menolak dan turun di Maritzburg.  Maka ia menghabiskan malam panjangnya yang dingin itu dengan duduk di ruang tunggu stasiun. Gandi merenung sambil memikirkan apa yang ia alami. Jiwa mudanya menginspirasinya untuk bertahan dan harus berjuang bukannya lari atau diam-diam menelan penghinaan terhadap martabat dan hak asasi seperti itu. Ahirnya ia beranggapan bahwa malamnya di Maritzburg sebagai suatu titik yang mengubah arah kehidupannya.[16]

Dalam beberapa hari setelah sampai di Petroria, barangkali karena penghinaan yang dialami selama perjalanan ia mulai mengadakan pertemuan-pertemuan yang dihadiri komunitas India di Transval. Dalam pertemuan ini Gandhi berpidato untuk pertama kalinya di depan publik umum. Gandhi berbicara tentang diskriminasi rasial yang dilihat dan dialaminya. Dia juga mendesak para pendengarnya untuk menjalankan bisnisnya secara jujur, mewajibkan mereka untuk memperbaiki kebiasaan kebersihan mereka dan melupakan perbedaan agama dan kasta di antara mereka. Para pendengarnya puas dan terkesan dengan pidato pertamanya Gandhi, sehingga mereka memutuskan untuk membuat pertemuan serupa setiap minggunya. Dia juga menawarkan kepada komunitasnya untuk mengajar mereka bahasa Inggris. Meskipun dia datang untuk bekerja sebagai seorang Barister, tetapi dia mulai mengubah dirinya sendiri menjadi pemimpin dan guru masyarakat.[17]

Gandhi, negosiator dan penggerak yang tekun dan sabar, menjadi juru bicara bagi kepentingan para pedagang India. Dia melangkah setapak demi setapak untuk menemukan obat ketidak adilan, pertama untuk masyarakat elit India, kemudian untuk seluruh masyarakat termasuk para pekerja kelas rendah mantan budak melalui perjuangan tanpa kekerasan..

Afrika Selatan menjadi bumi pembuktian landasan bagi kemunculan Gandhi sebagai pemimpin utama komunitas India emigran selama dua dekade berikutnya. Hingga tiba waktunya  kembali ke India dia telah berubah total dalam berpakaian dan tata krama sehari-hari, berpikir dan berbicara. Gandhi menyebut tahun pertamanya di Afrika Selatan sebagai pengalaman yang tidak terlupakan dalam hidupnya, kerja publiknya diluncurkan, dan semangat keagamaannya menjadi tenaga yang hidup[18].

Tokoh-tokoh yang Mempengaruhi Pemikiran Mahatma Gandhi Tentang Ahimsa
Ajaran-ajaran Bhagavad Gita sebagai kitab suci agama Hindu yang indah telah berpengaruh dan terserap dalam cara hidup Gandhi sebagai seorang penganut Hindu. Sering kali bila ia mengalami tekanan hidup ia mencari hiburan dengan membaca Bhagavad Gita. Baginya, apa yang terkandung dalam Bhagavad Gita sangat menarik karena banyak menawarkan ajaran moral dalam rangka mencapai kesempurnaan. Bhagavad Gita adalah penuntun kehidupan rohani, sehingga setiap saat dalam kehidupannya merupakan usaha yang sadar untuk menghayati kitab Gita ini.[19] Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila Bhagavad Gita disebut “mutiara” dari semua aliran dalam Hinduisme.[20]

Ragam pemikiran Gandhi diwarnai oleh apa yang dialami dalam perjalanan hidupnya.. Dia amat terkesan dengan Khutbah Di Atas Bukitnya Yesus Kristus. Ajaran ahimsa Gandhi sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Khotbah Di Aatas Bukit karena isinya ada kesesuaian dengan Bhagavad Gita dan Uphanisad. Alkitab merupakan buku referensinya yang paling sering ia kutip kata-katanya. Dari Khutbah di Atas Bukit ini ia mempelajari moralitas Kristen, terutama tentang kekuatan cinta kasih. Dia juga mempelajari kitab suci kaum Muslim, Al-Qur’an, dan kitab suci orang Parsi, Avesta.

Dalam eksplorasi-eksplorasi agama yang dilakukannya, Gandhi menemukan tulisan-tulisan tentang ajaran Kristen yang diuraikan oleh Leo Tolstoy. Gandhi terinspirasi oleh pencarian tiada henti terhadap kesempurnaan dan universalitas cinta. The Kingdom of God is Within You, karya Tolstoy menguraikan bahwa seluruh pemerintahan didasarkan pada perang dan kekerasan, dan seseorang bisa menandingi kejahatan-kejahatan ini hanya melalui perlawanan pasif  (resistance passive). Gagasan ini menimbulkan kesan yang sangat mendalam dalam kehidupan Gandhi.[21] Dengan The Kingdom of God is Within You ini Gandhi mendapat dukungan yang meyakinkan atas kepercayaan pada kebenaran dan tanpa perlawanan, dia juga mendapatkan suatu ungkapan dinamis tentang keindahan dan kebesaran penderitaan. Penderitaan tidak selalu bersifat dan bernilai negatif, dengan penderitaan manusia akan terangkat ke taraf keutamaan yang lebih tinggi. Tolstoy menunjukkan bahwa melalui penderitaan, manusia bisa membebaskan diri dan menetralisir kekuatan-kekuatan jahat yang ada pada dirinya.[22]

Gandhi juga terpengaruh oleh Ruskin. Pada perjalanannya menuju Durban dari Johansburg, selama dua puluh empat jam ia membaca buku Ruskin yang berjudul Unto This Last, ia sangat tertarik dengan buku tersebut, karena Ruskin menyatakan bahwa basis kemakmuran masyarakat yang sebenarnya bukanlah kemakmuran atau kekayaan, sebagaimana yang diyakini para ekonom klasik, tetapi dari “emas yang tak tampak” (invisible gold) dari persahabatan manusia.[23]

Ruskin mensyaratkan kepada manusia agar tidak terjadi ketidak setaraan dan ketidak adilan sosial untuk meninggalkan kepemilikan, terutama kepemilikan pribadi, menghormati diri mereka sendiri dengan mengembangkan kebanggaan untuk tidak saling melukai dan melakukan pencarian terhadap perdamaian secara tenang. Buku itu membenarkan keyakinan yang sedang tumbuh dalam diri Gandhi bahwa kehidupan sederhana dari kalangan petani atau para pengrajin adalah kehidupan yang ideal. Buku itu dalam tahun 1946 menandai titik peralihan dalam hidup Gandhi.[24] Setelah itu ia memutuskan untuk berdiam di tanah pertani
an dan hidup secara sederhana.

Buku lain yang sangat berpengaruh bagi Gandhi bagaimana secara praksis melaksanakan ahimsa dan satyagraha adalah Civil Disobedience karya Henri David Thoreau. Buku ini membuka mata Gandhi bagaimana ahimsa dapat digunakan dalam menghadapi persoalan-persoalan politik. Ia juga terkesan oleh kenyataan bahwa manusia tidak pernah dapat dimasukkan dalam penjara, sebab tidak  ada satu instansi pun yang mampu manahan kehendak seseorang. Thoreau yakin bahwa kebenaranlah yang akan menang.[25]

Gandhi mengatakan, “dalam diri Thoreau saya menemukan seorang guru, yang melalui eseinya telah memberikan konfirmasi ilmiah tentang apa yang telah saya lakukan di Afrika Selatan, Inggris telah memberikan Ruskin yang tulisannya mengubah saya dari seorang pengacara dan penghuni kota menjadi seorang yang tinggal di daerah pedusunan, dan Rusia telah memberikan kepada saya Tolstoy yang telah meletakkan dasar yang sehat untuk paham pantang kekerasan saya”.[26]  ( Fuad Husni Amrulloh)


[1] Toni Santosa,  “Ahimsa dalam Pandangan Mahatma Gandhi”, Driyarkara, no. 1/ th. XV, 1998, hlm. 46.
[2] Mahatma Gandhi, Kehidupan Ashram dari Hari ke Hari, terj. Gedong Bagus Oka, (Denpasar : Yayasan Bali Canti  Sena, 1981), hlm. 40.
[3] Ibid., hlm. 106.
[4] Ibid..
[5] Mahatma Gandhi, Semua Manusia Bersaudara: Kehidupan dan Gagasan Mahatma Gandhi Sebagaimana Diceritakannya Sendiri, terj. Kustiniyati Mochtar, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988), hlm. 103.
[6] Ibid..
[7] Thomas Merton, Gandhi Tentang Pantang Kekerasan, terj. A.M Fatwan dan Hasan Basri,  (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992), hlm. 39.
[8] Mahatma Gandhi, Semua Manusia Bersaudara…….…….., hlm. 123.
[9] R. Wahana Wegig, Dimensi Etis Ajaran Gandhi, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986), hlm. 30.
[10] Rene Fulop-Miller, Lenin dan Gandhi, Terj. A.Z. Palindih, (Jakarta: Balai Pustaka, 1951),  hlm 234.
[11] Thomas Merton,  Gandhi Tentang Pantang Kekerasan,………….., hlm. 36.
[12] I Gde Sura. Pengendalian Diri dan Etika: dalam Ajaran Hindu, (Jakarta: Departemen Agama RI,: 1985), hlm. 62.
[13] Cudamani, Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi,  1990), hlm. 141.
[14] J. Thekkinedath, Love of Neighbour in Mahatma Gandhi, (Banglore: St. Paul’s Press Training School, 1971), hlm.104.
[15] Ibid., hlm. 104.
[16] Ved Mehta., Ajaran-ajaran Mahatma Gandhi Kesaksian dari Para Pengikut dan Musuh-musuhnya,  terj. Siti Farida, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 203. 
[17] Stanley Wolpert, Mahatma Gandhi: Sang Penakluk Kekerasan, Hidupnya dan Ajarannya, terj. Sugeng Harianto, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 51.
[18] Ibid., hlm. 52.
[19] R. Wahana Wegig, “Menyongsong Hari Depan Bersama Gandhi”, …………, hlm. 40.
[20] Wagiyo, M.S, “Makna Individu dan Masyarakat Menurut Mohandas Karamachand Gandhi dalam Interaksi Sosial Dewasa ini”, Jurnal Filsafat, Seri 19, Agustus 1994,  hlm 33.
[21] Ved Mehta, Ajaran-ajaran Mahatma Gandhi…………., hlm 233
[22] R. Wahana Wegig, Dimensi Etis Ajaran Gandhi ……., hlm. 16.
[23] Ved mehta, Ajaran-ajaran Mahatma Gandhi………….., hlm. 235.
[24] Louis Fischer, Mahatma GandhiPenghidupannya dan Pesannya untuk Dunia, terj. Trisno Sumarjo, (Jakarta: Pembangunan, 1967), hlm. 38.
[25] R. Wahana Wegig,  Dimensi Etis Ajaran Gandhi……..…..., hlm. 15.
[26] Mahatma Gandhi, Semua Manusia Berrsaudara……….., hlm. 35.

Nama

100 hari kerja,1,14 hari belajar di rumah,1,14 hari libur sekolah,3,7 Inisiatif Udara Bersih Jakata,1,abdullah hehamahua,1,Abu Nawas,2,adamas belva syah devara,2,Ade Armando,3,Agus Lennon,1,Ahimsa,1,ahli distribusi pangan,2,ahli hidrologi,2,ahli pangan,1,ahmad supari,1,Ahmad Yani,1,Ahok,4,air hujan,1,air putih,1,aisyah istri rasulullah,2,aksi cepat tanggap (act_ jakarta care line,1,aktivis,2,Aktivis Mahasiswa 1977-1978,1,Aktual,925,akuntabilitas penanganan covid-19,1,al ghazali,3,Al-Ghazali,1,alat pelindung diri (apd),4,aldi m alizar,1,ali bin abi thalib,2,alienasi,1,alissa wahid,4,Alumni UGM,2,amalan rasulullah,2,amerika serikat,2,amin rais,1,anak,1,anak buah kapal (abk),1,Anak yatim,2,ananta damarjati,9,anatasia wahyudi,41,andi taufan garuda putra,2,Angkringan,12,angkutan publik,1,Anies Baswedan,144,Anugerah Jurnalistik,1,apbn,4,aplikasi,1,aplikasi ruangguru,1,Artikel,27,Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI),1,asyariyyah,1,Atta Halilintar,2,Awalil Rizky,45,Babay Parid Wazdi,2,bada kupat,1,Badan Amil Zakat Nasional (Baznas),3,badan pembina ideologi pancasila (bpip),2,badan penyelenggara jaminan sosial (bpjs) kesehatan,1,Badan Usaha Milik Negara (BUMN),4,bahrul ulum,1,Balai Bahasa Jawa Tengah,1,bambang soesatyo,1,bandara halim perdanakusuma,1,bandit,1,banjir,13,banjir demak,1,banjir jakarta,6,banjir surabaya,1,Bank DKI,1,bank dki jakarta,3,bank indonesia,2,Bank Sampah,1,Banser,1,bantuan sosial (bansos),6,Barisan Jabar,1,Barisan Jateng,39,Barisan Jatim,3,Barisan Jogja,7,barisan kalimantan,1,Barisan News,1,barisan nusantaa,3,Barisan Nusantara,12,barisan nusantara muda menanam,2,barisan nusantara solo,1,Basket,1,batik semarang 16,1,Baznas (Bazis) DKI Jakarta,9,bekerja di rumah,3,belajar bahasa inggris,1,belajar dari rumah,1,belajar di rumah,1,beta wijaya,8,Betawi,4,bhima yudistira,1,binahong,1,Bioskop Rakyat,1,BJ Habibie,6,buah,1,Budaya,15,buku,1,bulan syaban,2,Bundaran HI,1,bus akap,1,bus feeder semarang,1,busthomi rifai,5,buya hamka,1,buya yahya,1,Buzzer,7,cabai,1,Cak Nun,2,calon presiden 2020,1,capres 2024,2,Car Free Day (CFD),1,cebong,1,Cerpen,1,Cheng Ho,1,choi pan goreng,1,Christmas Carol,1,cibubur,1,cipete selatan,1,City 4.0,1,covid-19,102,CPNS,1,cuaca ekstream,1,cuci tangan,1,cukong partai,1,current account,1,daerah,93,dana haji,2,danarto,1,darurat sipil,1,das serayu,1,daun sirih,1,demak,1,Demonstrasi,2,denny ja,1,Denny Siregar,2,Dewan Kesenian,3,dewan kesenian jakarta,1,Dewan Kesenian Semarang,1,dewan masjid indonesia,1,Dewan Pengupahan,1,dewan perwakilan daerah (dpd),1,dialektika,1,dinas bina marga,1,dinas kebudayaan,1,dinas pendidikan,1,dinas sosial,1,Disabilitas,1,Disertasi,2,disinfeksi,2,disinfektan,4,diskusi online,1,ditjen pendidikan islam,1,Djarum Foundation,1,dki jakarta,17,Doa,4,dokter,1,donald trump,1,dongeng utang,3,dprd dki jakarta,3,DPRD Jateng,1,dprd kota semarang,1,dr. sutrisno muslimin,3,drone,1,dua siklon tropis,1,E-Commerce,1,e-ktp,1,Edhie Prayitno Ige,1,Eko Tunas,5,ekonom jalanan,2,Ekonomi,62,ekonomi syariah,1,Entertainment,11,Esai,4,esensialisme,1,Fachrul Razi,2,fadjroel rachman,1,fakta,1,family farming,1,farid gaban,1,farouk abdullah alwyni,3,fasisme,1,fatimah,1,Felix Siau,1,Feminisme,1,Festival Teater,2,Film,4,Film The Santri,4,Filsafat,3,filsafat pendidikan,5,filsafat pendidikan islam,1,Flora dan Fauna 2019,1,flu,1,food station,1,forkompimko jakarta timur,1,formula e,1,forum honores kategori 2 indonesia (fhk21) pegawai honorer,1,Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),1,foto,13,fraksi pkb,1,Freeport,1,Front Pembela Islam (FPI),3,gamelan,1,Ganjar Pranowo,1,gaya hidup,8,Geisz Chalifah,13,gender,1,generasi milenial,1,Gerakan Ansor Peduli,1,gerakan nasional pengawal ulama,1,gerakan persaudaraan muslim indonesia (gpmi),1,gerakan turun tangan,2,Gereja di Karimun,1,Gereja Katolik Santo Joseph,1,gerhana matahari,1,gerhana matahari cincin,1,germas berkat,1,gojek,1,gopay,1,gosok gigi,1,Gowes,2,Gowes Bareng Anies,2,GP Ansor,4,grab,1,gubernur dki jakarta,1,gugus tugas covid-19,1,Gundala,1,gunung merapi,1,guru,3,guru ngaji,1,gus baha,1,Gus Dur,5,Gus Mus,1,Gus Muwafiq,1,gus sholah,1,gus windu el hasmary,1,gusdurian,2,Habib Luthfi bin Yahya,1,hadits,3,haji,3,hand sanitizer,1,Hari Antikorupsi,1,hari buku nasional,1,hari buruh,1,hari lahir pancasila,1,hari peduli sampah nasional,1,hari pendidikan nasional (hardiknas),1,Hari Pohon Sedunia,1,hari puisi nasional,1,hari raya idul fitri,2,hari raya nyepi,1,Hasta Brata,1,herbal,3,Hersubeno Arief,39,hidrologi,2,hidroteknik,1,hidung pesek,1,hidup sehat,1,Hikmah,23,himpunan mahasiswa islam,5,Himpunan Tenaga Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI),1,hindu tamil,1,hmi,5,Hoax,6,hodrometeorologi,1,Honorable Mention dari Komite Sustainable Award (STA),1,hotel grand cempaka,1,hujan,1,hujan malam malam,1,Hukum,9,hukum zakat,1,Humor,7,humor gus dur,1,ibadah haji,1,ibu,1,ibu hami,1,Ibu Kota,1,idul fitri,3,ihya ulumuddin,1,Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI),1,ikatan doketer indonesia (idi),3,ikatan sarjana nahdlatul ulama (isnu),1,iklan,1,imam al ghazali,1,imunitas,1,inalum,1,indo barometer,1,indobarometer,1,Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019,1,industri,1,industri pengolahan,1,Info Pangan Murah September 2019,1,infografis,27,Informasi,19,Inspiratif,13,Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL),1,Institut Harkat Negeri,2,institut harkat negeri (ihn),1,Institut Media Sosial dan Diplomasi,1,Institut Teknologi Bandung (ITB),1,internasional,6,Internasional Book Fair (IIBF),1,investasi,1,ir soekarno,1,iran,1,istri,1,Iwan Samariansyah,1,jahe,1,Jakarta Aman,1,jakarta banjir,7,jakarta lockdown,1,jakarta macet,1,Jakarta Muharam Festival,6,jakarta pusat,1,jakarta ramah sepeda,1,jakarta tanggap darurat bencana,2,jakarta timur,1,jakarta tourism forum (jtf),4,Jakarta Urban Kampung Conference 2019,1,Jakbee,1,jakpreneur,1,jamaah tabligh,2,jamu,1,jamus kalimasada,1,Jantu Sukmaningtyas,3,jaringan gusdurian,4,Jawa,2,Joker,1,joko pekik,1,Jokowi,49,Jurnalistik,1,Kabinet Indonesia Maju,4,Kampus,6,kandank warak,2,kapitalisme,1,karl marx,1,Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU),2,Kartu Jakarta Pintar (KJP),1,kartu prakerja,2,kartu sembako,1,kawasan monas,2,kawasan perkotaan,1,kearifan lokal,1,Kebakaran,6,kebangkrutan negara,1,kebersihan,1,kebudayaan,2,kecerdasan,1,kekerasan anak,1,kelana siwi,1,kelenteng ancol,1,keluarga,3,kemacetan,2,Kementerian Agama,4,kementerian keuangan,1,kementerian luar negei (kemenlu) ri,1,kementerian pendidikan dan kebudayaan,3,kementerian pupr,1,kementerian riset dan teknologi (kemenristek),1,kementrian agama,1,Kemiskinan,2,Kepemimpinan,1,kepiting saos padang,1,kepulauan seribu,3,Keraton Agung Sejagat,1,Kesehatan,22,kesehatan gigi,1,kesejahteraan penduduk,1,Kesenian,8,ketahanan pangan,5,ketua mpr ri,1,ketupat,1,keuangan,1,kh hasyim asyari,1,kh sholahuddin wahid,1,kh. ahmad dahlan,1,KH. Hasyim Asyari,1,KH. Maimun Zubair,1,KH. Maruf Amin,1,Khazanah,38,Khilafah,1,khoirul hidayat,1,ki ageng selo,1,Kisah,11,kisah suskses,1,kolang kaling,1,Kolom,292,Kolonel Hendi Suhendi,1,Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia,1,Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),7,Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),2,Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI),1,Komunikonten,2,Komunitas Film,1,Komunitas Kaligawe,1,komunitas sepeda,1,kongres hmi ke XXXII,1,kongres umat islam,1,koperasi,1,korea utara,1,Korupsi,4,koruptor,1,krisis ekonomi,4,krisis indonesia,2,ktp elektronik,1,Kue,2,kuliah daring,2,Kuliner,9,Lampion,1,lazisnu jateng,1,lebaran,1,Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah (LAZIS),2,Lenong Betawi,1,lepat,1,lesbumi,1,lesbumi nu grobogan,1,libur sekolah,1,Lifestyle,60,limbah,1,Lingkungan Hidup,13,Literasi,3,Literasi Media,1,lockdown,12,logika,1,Lomba Baca Puisi,2,lombok,1,lpmk banjardowo,1,lpmk semarang,1,luhut pandjaitan,3,lukisan,1,Lukman Hakim Hasan,6,lukman wibowo,2,Lukni An Nairi,7,mafia minyak,1,Mahasiswa,9,Mahatma Gandhi,1,mahfud md,3,majelis nasional kahmi,1,majelis taklim bahrul ulum,1,Majelis Ulama Indonesia (MUI),6,Makanan,4,malam nisfu syaban,2,Malam Tahun Baru,1,malang,1,maneken,1,Mardigu Wowiek,1,marhaban ya ramadan 2020,1,Masjid,4,masjid agung sunda kelapa,1,masjid cut meutia,1,masker,4,matematika,1,may day,1,Media Sosial,7,megawati,1,melati air,1,meme,1,Menteri Agama,1,menteri kesehatan,1,menteri keungan,2,menteri koperasi dan ukm,1,merapi,1,merapi erupsi,1,milad hmi ke-73,2,milenial,2,mimbar virtual,5,mitigasi bencana,1,Mobil Esemka,1,Mobil Listrik,1,moda raya terpadu (mrt),1,moderasi agama,1,monas,2,moral hazard,1,muda melawan semarang,1,mudik,2,muhammad chozin,4,muhammad iqbal,1,Muhammad Natsir,1,muhammad said didu,4,Muhammad Syahrur,1,muhammadiyah,3,Muharram,6,Muktamar ke-34 NU,1,multikultural,1,Museum,1,Musik,3,Musik Klasik,2,musik religi,1,Muslim United,1,mw kahmi,1,nabi musa,1,Nadiem Makarim,4,Nadirsyah Hosen,1,Nahdlatul Ulama (NU),7,najwa shihab,2,nana akufo addo,1,nasi goreng,1,nasional,101,nasionalisme,1,Natal,1,nelson mandela,1,Neraca Pembayaran Indonesia (NPI),1,neraca transaksi berjalan,1,new normal,14,News,573,ngabuburit,1,ngehits,3,ngopi,1,ningsih tinampi,1,nissa sabyan,2,nitizen,1,novel baswedan,4,nu kota semarang,2,nu peduli covid-19,1,nurfadilah,1,nuzulul quran,1,nyadran,1,ojek online,2,Olah raga,3,oligarki,1,oligarki ekonomi,1,oligarki politik,1,omnibus law,2,Opini,88,orang orang maneken,1,organisasi kesehatan dunia (who),1,ott kpk,1,pagar nusa,1,paguyuban pedagang warteg,1,Pajak,1,pancasila,2,pandemi covid-19,10,Panel Surya,1,panembahan reso,1,pangan,4,panglima komando operasi pemulihan keamanan dan ketertiban,1,pantai tugulufa,1,Papua,7,parenting,2,partai amanat nasional (PAN),1,partai demokrasi indonesia perjuangan (pdip),5,Partai Gerindra,3,partai kebangkitan bangsa,4,Partai Nasdem,1,Partai Persantuan Pembangunan,1,partai politik,2,Partai Solidaritas Indonesia (PSI),1,paru-paru,1,pasar kaget,1,PD Dharma Jaya,2,Peci,1,Pedagang Kaki Lima (PKL),1,pegawai negeri,1,pekerja seni,2,pelajar jakarta,1,Pelantikan Presiden,1,pelayanan publik,1,pemakaman jenazah covid-19,2,pemakzulan presiden,1,pembatasan kegiatan masyarakat (pkm),1,pembatasan sosial berskala besar (psbb),16,pemilu 2024,1,pemimpin profetik,1,pemkot jakarta barat,1,Pemprov DKI Jakarta,5,pemuda pancasila,1,pemutusan hubungan kerja (phk),2,pendapatan negara,1,Pendidikan,51,pendidikan agama islam,1,Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),6,pendidikan esensialisme,1,pendidikan islam,1,pendidikan progresivisme,2,pendidikan seks,1,pendidikan sosialis,1,pendidikan usia dini,1,pendidikan virtual,1,penggali kubur,1,pengganguran dki jakarta,1,pengobatan alternatif,1,penguasa politik,1,penimbun masker,1,penimbun masker di tangkap,1,penyakit hati,1,penyakit masyarakat,1,pepatah jawa,1,perbankan,3,perhutani,1,perizinan,1,perkiraan cuaca,1,perpustakaan,2,persaudaraan alumni 212,1,pertamina,1,pertumbuhan ekonomi,2,perumda pasar jaya,1,petruk,1,petruk dadi ratu,1,physical distancing,1,pilkades kendal,1,pilwakot semarang,2,piter abdullah,1,pkb kota semarang,11,pkk,1,planetarium jakarta,1,polda jateng,1,Poligami,1,Polisi,3,Politik,27,polri,1,pondok modern gontor,1,pondok modern tazakka,1,Pondok Pesantren,6,pondok pesantren al fatah temboro,1,Pondok Pesantren Sidogiri,1,Pop Culture,1,portofolio,1,posko nu peduli,1,posko tanggap darurat,1,Prabowo Subianto,4,Prank,1,Prasidatama,1,Presiden,2,presiden ghana,1,presiden xi jinping,1,prie gs,1,pro demokrasi (prodem),1,produk domestik bruto (PDB),1,Prof. Dr. Aliyah Alganis Rasyid Baswedan,1,program padat karya tunai,2,psikologi,1,pt food station tjipinang jaya,1,PT Jiwasraya,4,pt pembangunan jaya ancol,1,puan nusantara,3,puasa,7,puasa ramadan,2,Puisi,27,puji hartoyo,1,pulang kampung,1,pulau jawa,1,punakawan,1,purbalingga,1,puskesmas,1,putri nur wijayanti,20,Quotes,1,quraish shihab,1,ra kartini,1,Radikal Islam,1,Raja Keraton Agung Sejagat,1,rak buku,1,ramadan,9,rapid test,1,rasio defesit apbn,1,rasio utang,2,Redaksi,2,refly harun,1,reformasi,3,Reklamasi,2,relawan gugus tugas covid-19,3,Resep Masakan,1,Resesi,9,resesi ekonomi,1,restoran,1,Reuni 212,4,revitalisasi kawasan monas,1,revitalisasi tim,1,revolusi,1,revolusi sosial,1,rindu biru,1,risma,1,riza patria,3,rob,1,Rocky Gerung,4,rofandi hartanto,4,Rokok,1,roni hidayat,1,rptra krendang,1,Ruang Baca Jakarta,1,Ruang Ketiga Jakarta,1,Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA),1,ruangguru,2,rumah buku,1,rumah sakit darurat corona virus,1,ruu haluan ideologi pancasila (hip),1,saat suharto,1,saat suharto amjad,1,sajak sekolah,1,salman dianda anwar,4,Sam Po Kong,1,samin surasentika,1,Sampah,4,santiga seafood,1,Santri,3,sarah keihl,1,Sastra,26,sate kuah pontianak,1,satpol pp,2,satu dekade gus dur,1,Sayembara Desain,1,sekolah,2,Sekolah Aman Asap,1,sekolah menengah kejuruan (smk),1,sekolah online,1,selempang wisuda,1,semarang hebat sodri,1,sembako,4,seni,3,seniman,3,Sepak Bola,1,Septic Tank,1,Sertifikat Tanah,1,shalat idul fitri,2,sigit dwi saputro,2,silaturahim virtual,1,silaturahmi digital,1,simpul indonesia,1,Singapore Institute of Planners (SIP) Awards 2019,1,Singkong,1,siti khadijah,3,skripsi,1,smait insan cendekia madani,1,smp bakti mulya 400,1,social distancing,1,Soeharto,1,solidaritas,1,Sosok,3,Sri Bintang Pamungkas,1,sri mulyani,8,stay at home,2,sudirman said,1,Sumpah Pemuda,1,Sunan Kalijaga,2,surat izin keluar masuk (sikm),2,surat utang,2,suryadi nomi,4,Susilo Bambang Yudhoyono,1,susu,1,syahrul efendi dasopang,1,syakir daulay,1,syekh abdul qadir al jilani,1,syiah,1,Tafsir,3,tahu gejrot,1,Tahun Baru Islam,1,taipan,1,Taman Impian Jaya Ancol,5,tamsil linrung,2,tan malaka,1,tanaman,1,tandon beras,1,tarekat cinta,1,Tari,2,Tasawuf,2,tatak ujiyati,39,teater,2,teater anak,1,teha edy djohar,1,Teknologi,3,telekomunikasi,1,tenaga medis,2,tendensi kesenian,1,Tentara Nasional Indonesia (TNI),1,terminal rawamangun,1,teten masduki,1,The Wall Steet Journal,1,tim,1,tim gubernur untuk percepatan pembangunan (tgupp),1,tim transisi,1,tiongkok,1,tips,1,tito karnavian,1,tki,1,togel,3,togel semarang,2,Tony Rosyid,33,Toto Santoso,1,toxic parent,1,trans jakarta,1,transaksi berjalan,2,transformasi fpi,1,transportasi,2,tsunami,1,Tumenggung Purbonagoro,1,Tumenggung Purbonegoro,1,tunjangan hari raya (thr),1,Turun Tangan,7,tvri,1,ubedilah badrun,4,uin walisongo semarang,1,ujian nasional (un),3,ular,1,ular sanca,1,umar bin khattab,1,umkm,1,Umroh,1,universitas al azhar mesir,1,Universitas Gajah Mada (UGM),2,Universitas Islam Indonesia (UII),1,universitas jenderal soedirman (unsoed) purwokerto,1,Universitas Suryakancana,1,universitas trunojoyo madura,3,update covid-19,25,urban farming,2,urbanisasi,1,usaha,1,usaha mikro kecil (umk),1,usaha mikro kecil menengah (umkm),7,Ustadz Abdul Somad,1,utang indonesia,1,Utang Luar Negeri Indonesia,3,uu karantina kesehatan,1,ventilator pasien covid-19,1,video,33,virus corona,50,Wakaf,1,Wakaf Produktif,1,wakil gubernud dki jakarta,1,walikota jakarta,1,walikota semarang,1,walkot farm,1,waluyo suryadi,1,Warak Semarang,1,Warak University,4,wardjito soeharso,1,warung kopi,1,wasiat allah,1,Wayang,4,wedang ronde,1,whatshapp,1,wildan syukri niam,10,Wiranto,5,Wisata,8,Wisata Semarang,1,wisma atlet,2,wisuda online,1,work form home,2,ws rendra,2,Yaman,1,yanto,3,yanto phd,6,Youtube,5,yudian wahyudi,2,yusdi usman,3,zakat,2,zakat fitrah,2,zakat uang,1,zeng wei jian,1,Zodiak,1,Zuhud,2,Zulkifli Hasan,1,
ltr
item
Media Jaringan Nasional - Jarnas.id: Inilah Ajaran Ahimsa Mahatma Gandhi
Inilah Ajaran Ahimsa Mahatma Gandhi
AHIMSA BERASAL dari bahasa Sansekrit yang terdiri dari dua kata yaitu “A” dan “Himsa”. Ahimsa biasanya diterjemahkan sebagai tanpa kekerasan. Ahimsa merupakan suatu sifat yang amat khusus dalam terminologi Hindu.
https://3.bp.blogspot.com/-uo172wBFG-0/VK8HYRoXGYI/AAAAAAAAC-I/fhsWFKoJ4jY/s1600/mahatma_gandhi21%2Bcopy.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-uo172wBFG-0/VK8HYRoXGYI/AAAAAAAAC-I/fhsWFKoJ4jY/s72-c/mahatma_gandhi21%2Bcopy.jpg
Media Jaringan Nasional - Jarnas.id
https://www.jarnas.id/2019/10/ajaran-ahimsa-mahatma-gandhi.html
https://www.jarnas.id/
https://www.jarnas.id/
https://www.jarnas.id/2019/10/ajaran-ahimsa-mahatma-gandhi.html
true
5480613612464417000
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy