Tan Malaka dan Revolusi: Sosial, Ekonomi, Politik dan Pendidikan

Bermula dari pandangan sejarah masa lalu, Tan Malaka melihat bahwa ketidak- setaraan sosial dalam masyarakat terjadi karena adanya keinginan sebagian kecil orang mencaplok sebagian yang lainnya.

Tan Malaka

REVOLUSI bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang membangun revolusi, mempercepat atau memimpinnya menuju ke kemenangan, tetapi ia tidak dapat menciptakan dengan otaknya sendiri. 

Satu revolusi ialah yang disebabkan oleh pergaulan hidup, satu hakekat tertentu dari perbuatan perbuatan masyarakat. Atau disebut dengan perkataan dinamis, dia adalah akibat yang tertentu dan tak dapat disingkirkan dari timbulnya pertentanga kelas yang makin hari makin bertambah tajam. Ketajaman pertentangan yang menimbulkan pertempuran ditentukan oleh pelbagai faktor ekonomi, sosial, politik dan psikologis.[1]

Revolusi Sosial
Bermula dari pandangan sejarah masa lalu, Tan Malaka melihat bahwa ketidak- setaraan sosial dalam masyarakat terjadi karena adanya keinginan sebagian kecil orang mencaplok sebagian yang lainnya.

Budaya stratifikasi sosial ini nampaknya merupakan budaya warisan (transmission) Hindu yang kemudian berurat berakar pada masyarakat Indonesia. Tan Malaka melihat dalam masyarakat asli Indonesia sebenarnya tidak terdapat pertentangan antara kelompok satu dengan yang lainnya. Dalam Pandangan Hidup Tan Malaka memberikan contoh sisitem masyarakat Indonesia asli semisal orang Kubu (Sumatra Selatan), Semang (Malaya), Dayak (Kalimantan) dan orang Irian di

Papua.[2] Pada masyarakat asli Indonesia segala sesuatu diurus bersama dan dimiliki bersama untuk kelangsungan hidup. Sumber-sumber alam tidak dikuasai oleh sekelompok orang tetapi sebaliknya dan bahkan alam dimitoskan sebagai kekuatan suci tempat mereka menyandarkan hidup.

Dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia yang semula masyarakat Komunisme asli mengalami perubahan seiring masuknya agama dan budaya asing. Hindu dengan sistem kastanya meninggalkan bekas yang cukup signifikan terhadap sistem kemasyarakatan Indonesia, terutama di Jawa, Tan Malaka mengamati adanya perbedaan tutur dalam masyarakat Jawa merupakan bentuk transmisi budaya Hindu (India) yang diadopsi begitu saja. 

Melalui media wayang Hindu (India) secara persuasif menyusupkan ajaran-ajaran agama, bahasa dan budayanya ke Indonesia. Dengan bahasa kromo kasta Sudra harus berkomunikasi dengan kasta diatasnya (Brahmanan, Ksatria dan waisa) yang menggunakan bahasa ngoko.[3]

Dengan adanya pembagian kelas menurut ajaran Hindu (India) Tan Malaka mengasumsikan, selanjutnya menjadi prasyarat perkembangan masyarakat menuju jenjang zaman perbudakan, feodalisme dan akhirnya sampai pada masa kapitalisme.[4]

Ketika kekuasaan sistem kapitalisme terjadi, disinilah puncak segala pertentangan kelas terlaksana secara sempurna. Kelas penguasa mengintimidasi kaum lemah dan seluruh interaksi sosial tidak lagi didasari atas kemanusiaan dan persamaan melainkan atas dasar kekuatan ekonomi dan status sosial. Dengan demikian maka menurut Tan Malaka langkah yang harus diambil adalah melakukan revolusi sosial. Perbedaan status, budaya bahasa dan warna kulit tidak menjadikan alasan untuk mendiskriminasi satu golongan karena secara alamiah manusia ditakdirkan “sama”.

Revolusi Ekonomi
Pengisapan sumber-sumber ekonomi di Indonesia berjalan cukup lama, sumber daya alam dan manusia diperas untuk kepentingan negaranegara penjajah. Dalam pengamatan Tan Malaka, pemerasan dan penindasan tidak disebabkan oleh faktor watak manusianya melainkan atas kedudukan dan cara menjalankan kapitalnya.[5]

Sebagai contoh Tan Malaka menunjuk pada Portugis dan Spanyol ketika memasuki Asia. Kedua negara tersebut menurut Tan Malaka tidak dapat melepaskan kondisi negara asalnya yang masih bersifat feodal. Pergerakan ekonomi masih dijalankan secara manual karena industri mesin belum tersedia.

Berbeda dengan Belanda yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1600, di negara Belanda sebagian besar feodalisme telah terdesak oleh kaum borjuasi. Sehingga negri Belanda yang ketika itu dalam kondisi perekonomian kapitalis muda menjajah Indonesia dengan cara yang sama dengan keadaan ekonomi mereka, dan mereka, menurut Tan Malaka tidak dapat menjadi negara industri karena Belanda tidak memiliki bahan baku industri besar seperti; kapas, batu bara dan besi.[6]

Di Indonesia keadaannya sangat pasif, industri bumi putera tidak mampu bersaing dengan negara penjajah. Perusahaan minyak dan kebun-kebun terpenting hampir semuanya dikuasai oleh Inggris. Hal ini disebabkan kurangnya kapital dan industri bagi Belanda, maka Tan Malaka memprediksikan suatu saat untuk menyaingi Inggris negara Belanda akan menggandeng Amerika dengan kapital di tanam di Indonesia.[7]

Perkembangan dibidang perekonomian lambat laun semakin membesar, semula para borjuasi membentuk kumpulan-kumpulan dagang untuk memperluas wilayah jajahan. Kemudian dalam perkembangannya membuat kompeni yang lebih luas wilayah jajahan dan bidang kerjanya. Tan Malaka menjelaskan perkembangan tersebut, “di zaman kapitalisme modern, tidak berbentuk kongsi atau perkumpulan melainkan sudah naik menjadi kompeni kemudian sindikasi. Dari sindikat yang kurang terpusat dan teratur naik ke atas menjadi trust. Dari trust ke combined-trust atau gabungan beberapa trust di dalam maupun di luar negri.[8]

Kondisi monopoli perdagangan yang dikuasai oleh penjajah pada satu tahap mengalami clash (benturan) hal demikian terjadi karena kurangnya koordinasi diantara mereka sendiri, sehingga secara intern pertentangan itu akan mencuat ke permukaan dengan persaingan harga yang tak terkendali. Tan Malaka menyebutnya, dengan mengutip dua aturan ekonomi kapitalis, sebagai produksi liar (anarchy in the production) dan persaingan (concurrency).[9]

Tan Malaka mengetahui cara kerja sistem kapitalis yang secara intern pasti terjadi konflik, maka Tan Malaka lebih mementingkan menanamkan kesadaran rakyat Indonesia yang masih berada dalam “kegelapan” pengetahuan modern. Sumber daya manusia Indonesia ketika itu (tahun 1926) yang tahu baca tulis hanya sekitar 5-6% saja dari penduduk Indonesia yang berjumlah 55 Juta. Maka tidak mungkin rakyat Indonesia menciptakan tenaga – tenaga teknis yang diperlukan untuk menyaingi produksi Barat dalam waktu singkat.[10]

Secara teoritis pertentangan dua kelas antara Borjuasi dan Proletar dapat terjadi di dunia kapitalis modern. Sedangkan Indonesia yang dalam kondisi masyarakat agraris, kalaupun kapitalis tergolong kapitalis muda, tidak mungkin dapat menyegerakan revolusi proletar seperti Rusia. Maka Tan Malaka beranggapan, mengingat keadaan negara masih belum terbentuk, yang pertama harus dilakukan adalah perebutan kekuasaan secara total dan menyeluruh, atau dengan bahasa Tan Malaka, merdeka 100%. Baru kemudian menyusul persamaan distribusi dan kesempatan kerja pada seluruh masyarakat tanpa mengenal kelas. Tetapi Tan Malaka mengingatkan dalam melakukan perjuangan kemerdekaan analisa tetap didasari atas analisis materialisme dialektis yang selalu mengawasi perkembangan perekonomian dunia. “dalam taupan gelombang politk ekonomi dunia itulah kita dipaksa oleh keadaan mengemudikan kapal negara kita yang berdasarkan politik ekonomi pula.”[11]

Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang masih belum stabil gagasan Tan Malaka mengenai sistem perekonomian komunistis nampak tetap konsisten sejak Indonesia belum merdeka sampai Indonesia merdeka. Tan Malaka tetap menolak kerjasama dengan negara penjajah dalam bidang ekonomi. Perekonomian Indonesia harus diatur dan di urus sendiri dan untuk mencapainya tidak ada jalan lain kecuali adanya kemerdekaan di bidang politik. “Bagaimanakah suatu teori ekonomi bisa dijalankan kalau yang menjalankan itu sama sekali tiada mempunyai kekuasaan politik?”[12]

“kaum murba harus menunda rencana ekonomi sejati dan besarbesaran sampai revolusi ini selesai dengan kemenangan kaum murba. Namun selama revolusi ini berlangsung memang kaum murba harus tetap menjalankan rencana ekonomi. Rencana itu tak lain adalah ‘rencana ekonomi-perang’. Dalam ‘perang ekonomi melawan Belanda itu semua sikap dan tindakan ekonomi yang harus dilakukan ialah: (1). Mengambil sikap dan tindakan dalam ekonomi (yaitu dalam produksi distribusi dan lain-lain) untuk merugikan perekonomian Belanda. (2) mengambil sikap dan tindakan dalam ekonomi yang bersifat menguntungkan rakyat yang sedang melakukan revolusi.”[13]

Revolusi Politik
Semua negara di manapun di dunia ini telah bersepakat bahwa kemerdekaan adalah suatu hak. Kemerdekaan mengatur diri sendiri dalam segala bidang yang menyangkut semua aktifitas pemerintahan dan rakyatnya adalah syarat utama menegakkan suatu negara yang demokratis. Tan Malaka mengakui, “keadaan politik Indonesia belum pernah menjadi a common good, kepunyaan umum rakyat”[14] bermula dari zaman feodal, pemerintahan dipegang oleh sekelompok kecil orang saja dan semua kebijakan berada di tangan mereka bukan rakyat.

Dalam kaitannya dengan usaha memerdekakan bangsanya dari belenggu penjajah inilah pada tahun 1924 Tan Malaka menulis buku Naar de Republiek Indonesia. Dalam buku ini Tan Malaka menguraikan program nasional yang harus segera dilaksanakan terutama oleh PKI, karena partai revolusioner yang berbasis komunis di Indonesia hanya PKI ketika itu. 

Berikut program-program di bidang politik:
- Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas
- Membentuk republik federasi dari pelbagai pulau-pulau Indonesia
- Segera memanggil rapat nasional dan yang mewakili semua rakyat dan agama di Indonesia
- Segera memberikan hak politik sepenuhnya kepada penduduk Indonesia baik laki-laki maupun perempuan.[15]

Program kerja yang dirancang Tan Malaka berkaitan dengan politik ditujukan hanya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dari negara imperialis. Jika perebutan kekuasaan telah terlaksana maka tindakan selanjutnya adalah mengembangkan sendi-sendi pokok perekonomian.

Dua hal inilah menurut Tan Malaka yang menjadi sin quanon tumbuh tumbangnya suatu negara. Untuk mencapai kemerdekaan perangkat analisis Tan Malaka selalu merujuk pada ajaran-ajaran Marx, seperti dia katakan sendiri: “kita akui penuh bahwa aliran yang kita pakai ialah aliran Marx yang berdasarkan pertentangan dalam hal sosial, politik, ekonomi.”[16]

Tan Malaka tidak pernah ragu dengan kekuatan yang dimiliki oleh rakyat murba Indonesia untuk melakukan revolusi, dengan catatan massa aksi dibawah organisasi partai yang teratur dan berdisiplin. Aksi-aksi yang dilakukan meskipun harus dengan peperangan bersenjata jangan sampai terjebak pada putch. Senjata yang dimiliki rakyat Indonesia sangat sederhana tetapi apabila dilakukan secara massif dan teratur bersama seluruh lapisan rakyat maka kemerdekaan bukanlah suatu utopia.

Yang menarik adalah ketika Tan Malaka menjelaskan jalannyarevolusi Indonesia masih bersifat trial and error (coba-coba).130 Tan Malaka mengamati revolusi Prancis dan Rusia tidaklah sama dengan revolusi yang akan dilakukan di Indonesia. Menurutnya yang sama adalah cara berfikirnya yaitu materialisme dialektis. ”Marxism is not dogma but a guide to action.”[17] Tetapi dalam sebuah revolusi Tan Malaka tetap mendasari pada sikap, sifat, tindakan dan kesimpulan yang Marxistis yaitu: cara penjelasan yang materialistis, tafsiran yang materialistis dan semangat revolusioner.[18]

Bagi Tan Malaka revolusi Indonesia sudah di depan mata tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan revolusi. Tan Malaka mengamati kekuatan rakyat semakin kuat. Bermula dari analisanya terhadap jumlah pejuang, kemudian wilayah, keuangan, kesusilaan dan organisasi (sosial) keuntungan sangat jelas ada di pihak Indonesia, kekurangan rakyat Indonesia hanya pada persenjataan. Akan tetapi jika perjuangan dilakukan dengan sabar dan ulet maka kemerdekaan dari penjajah bukan mustahil dicapai.

Tan Malaka nampaknya sangat menyadari dalam melakukan revolusi yang dilakukan oleh tiap-tiap golongan rakyat Indonesia mesti dibutuhkan pendidikan politik dan koordinasi. Karena tiap-tiap golongan membawa kepentingan masing-masing, hal ini dapat menyebabkan perpecahan dari dalam dan menghambat revolusi. Makamenurut Tan Malaka pergerakan revolusi harus berada di bawah pimpinan orang yang mengerti, cerdik, berpandangan jauh serta memahami keadaan kaum murba dan tiap-tiap tingkatan pergerakan yang akan dilakukan.

Pergerakan yang dilakukan rakyat murba dalam kapasitasnya tetap merujuk pada kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Semua kekuatan rakyat berada di bawah satu payung yaitu kemerdekaan Indonesia 100%. Tanpa diplomasi dengan negara manapun. Konsep-konsep politik Tan Malaka nampak tidak mengalami banyak perubahan. Dia tetap mempercaya akurasi analisis Marxist untuk melakukan revolusi dan menuju kemerdekaan.

Revolusi Pendidikan
Tidak banyak yang dapat dipelajari mengenai gagasan Tan Malaka tentang pendidikan. Hanya satu brosur kecil yang dia tulis pada tahun 1921 di Semarang dengan judul SI Semarang dan Onderwijs yang menerangkan tentang konsep pendidikan rakyat Indonesia. Rencananya dia akan menulis sebuah buku mengenai pendidikan kaum murba Indonesia, seperti yang dia tulis sendiri: “tentulah akan lebih suka lagi, kalau mempunyai satu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya sekolah itu.”[19]

Tetapi belum sempat rencananya itu direalisasikan dia tertangkap polisi Hindia Belanda. Tidak mengherankan kiranya apabila Tan Malaka mengurus bidang pendidikan di sekolah-sekolah rakyat karena basic pendidikannya memang mengarah pada pendidikan dan pengajaran. Tan Malaka menyadari pendidikan yang ada di bawah kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit dan hanya diperuntuhkan bagi kaum bangsawan dan para penjajah. Pendidikan yang diterima Tan Malaka sendiri adalah pendidikan dengan sistem yang dibuat oleh pemerintah Hindia dan sekembalinya dari Belanda untuk pertama kalinya Tan Malaka sempat mengajar anak-anak Belanda di sekolah rendah.

Disaat itulah Tan Malaka bertemu dengan Prof. Snouck Hurgronye dan diberi nasihat akan pentingnya kesamaan perasaan, jiwa dan bahasa dalam dunia pendidikan. “Semenjak itu saya sangsi akan arahnya didikan saya. Saya malu untuk mendapatkan hak jadi guru mengajar anak Belanda yang tidak sebahasa, sebangsa dengan saya, dan tak akan saya jumpakan jiwanya dengan bahasa ibunya.”[20]

Tan Malaka menyadari betapa penting sebuah pendidikan bagi masyarakat Indonesia yang sedang berjuang melawan penjajah Belanda. dia mengasumsikan satu faktor dominan yang menyebabkan bangsa Indonesia sekian lama dalam kungkungan penjajah adalah karena kurangnya pengetahuan. Sementara sekolah-sekolah yang ada belum lagi memadai untuk mendidik anak – anak Indonesia kelas bawah (murba).

Sekolah-sekolah Belanda, menurut Tan Malaka, adalah sekolah-sekolah yang sengaja dirancang untuk kepentingan penguasaan kapital. Pendidikan yang berdasarkan dan untuk kaum modal harus di lawan dengan pendidikan berdasarkan dan untuk rakyat.[21]

“yakni kalau kita bandingkan dengan geest di sekolah-sekolah partikulier ataupun H.I.S. Gouverment. Nyata buat kita yang anakanak suka bekerja keras untuk mencari kepandaian, yang perlu kelak buat keperluan hidup (seperti membaca, menulis, berhitung, bahasa, dsb) pada dunia kemodalan, yang tiada mempunyai kasihan satu sama lain, pada dunia yang memberi rezeki dan keselamatan Cuma pada yang kuat dan pintar saja.”[22]

Dalam ringkasan program – program “sekolah rakyat”, Tan Malaka menuliskan tiga buah target pokok yang akan dicapai: - Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb.)
- Memberi haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (vereenniging)
- Menunjukkan kewajibannya kelak, terhadap pada berjuta-juta kaum kromo[23]

Nampak sekali strategi Tan Malaka untuk menghambat lajunya pendidikan gaya Imperialis Belanda dengan memasukkan pendidikan bahasa Belanda. “sebab kelak perlawanannya ialah kaum modal, yang memakai bahasa Belanda, maka perlu sekali kita ajarkan bahasa itu.”[24]

Dalam brosur Massa Aksi, Tan Malaka menuliskan program-program revolusi bidang pendidikan untuk bangsa Indonesia yang akan dilaksanakan oleh kaum murba :
- Pengajaran diwajibkan dan diberikan percuma diberikan kepada kanakkanak tiap-tiap warga negara Indonesia sampai berumur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.
- Meruntuhkan sistem pengajaran yang sekarang , dan mengadakan sistem baru, yang berdasarkan langsung atas kebutuhan industri yang ada atau yang bakal diadakan.
- Memperbaiki dan memperbanyak sekolah pertukangan, pertanian dan dagang dan memperbaiki serta memperbanyak sekolah terknik tinggi dan sekolah untuk pengurus tata usaha.[25]

Program – program revolusi pendidikan yang dicita-citakan Tan Malaka berorientasi pada pendidikan kaum murba dibawah asuhan para intelektual murbaisme. Semangat mencerdaskan bangsa itu tidak lain merupakan sebuah usaha memerdekakan bangsa Indonesia dan menjadikannya masyarakat berperadaban maju.




[1] Tan Malaka, Aksi Massa, CEDI dan Aliansi Press, Jakarta, 2000.., hlm. 1
[2] Tan Malaka, Pandangan Hidup…op.cit., hlm. 2. Contoh paling nyata masyarakat asli Indonesia yang sekarang masih ada mungkin sekali terdapat di beberapa suku pedalaman Indonesia, suku kubu di pedalaman Jambi dan suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini masih dapat disaksikan keberadaannya. Bahkan di Kalimantan terdapat agama Kaharingan yang begitu mendewakan alam (panteisme). Mereka semua tidak pernah merasa memiliki alam sebagai
otoritas satu golongan, kalaupun terjadi konflik biasanya diselesaikan secara adat.
[3] Lihat Tan Malaka, Madilog, Pusat Data Indikator, Jakarta, 1999.hlm. 158. Perbedaan kelas dalam asyarakat Indonesia, (khususnya Jawa) pada perkembangan selanjutnya, sesuai dengan penelitian Clifford Geertz , menjadi Santri, Abangan dan Priyayi. Meskipun banyak bantahan mengenai pembagian kelas versi Geertz ini tetap saja dalam beberapa tempat sering dianggap masih relevan.
[4] Uraian Tan Malaka mengenai perkembangan sejarah sejalan dengan analisis kaum Marxist. Nampaknya Tan Malaka agak sedikit memaksakan analisis Marx terhadap perkembangan sejarah manusia dengan “materialisme historis-nya” lihat Tan Malaka, Pandangan Hidup, Lumpen, Jakarta, 2000..hlm. 75-81. Karena dalam pengamatan Marx dalam Das Kapital, masyarakat Indonesia hanya dipresentasikan oleh masyarakat Jawa, itupun melalui buku karya Raffles. A History of Java. TanMalaka semestinya menyadari uraiannya mengenai masyarakat pedalaman Indonesia yang tidakseluruhnya terjebak pada sistem kapitalisme.
[5] Tan Malaka, Aksi Massaop.cit., hlm. 29
[6] Tan Malaka, Aksi Massa, Ibid, hlm. 41
[7] Tan Malaka, Aksi Massa, Ibid, hlm. 53
[8] Tan Malaka, Madilog,Op.cit. hlm. 170
[9] Tan Malaka, Madilog, Pusat Data Indikator, Jakarta, 1999. hlm. 171
[10] Tan Malaka, Menuju Republik Indonesia, Komunitas Bambu dan Yayasan Massa, Jakarta, 2000, hlm. 14
[11] Tan Malaka, Thesis, Yayasan Massa, Jakarta, 1987, hlm. 4
[12] Tan Malaka, Dari Penjara Ke Penjara II, Teplok Press, Jakarta, 2000, hlm. 376
[13] Tan Malaka, GERPOLEK, Jendela, Yogyakarta, 2000, hlm. 113
[14] Tan Malaka, Aksi Massa…op.cit., hlm. 93
[15] Tan Malaka, Menuju Republik Indonesia…op.cit, hlm. 24
[16] Tan Malaka, Thesisop.cit., hlm. 4
[17] Tan Malaka mengamati belum ada acuan yang tepat untuk Indonesia melakukan revolusi, maka bagi Tan Malaka revolusi Indonesia adalah sebuah revolusi coba-coba, dalam arti131 Menurut Tan Malaka ajaran Marx yang diterapkan di Rusia memang suatu pedoman jalannya revolusi, karena Rusia adalah negara pertama yang berhasil menerapkan ajaran-ajaran Marx dalam bentuk pergerakan. Tetapi realitanya situasi dan kondisi perangkat menuju revolusi
antara Rusia dan Indonesia sangat berbeda, maka Tan Malaka memformulasikan pokok ajaran Marxist yang tetap sama di setiap tempat adalah (1) cara (metode) menyelesaikan dan memahamkan soal masyarakat (social problem) ialah dengan cara dialektika (hukum pertenangan). (2) tafsiran, paham dan teori tentang kejadian (phenomena) dalam masyarakat itu didasarkan atas teori materialisme (kebendaan). (3). Semangat pemeriksaan dan penjelasan soal masyarakat da tindakan yang didasarkan kepada kesimpulan itu haruslah semangat kemajuan revolusioner. Lihat
Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara III, Teplok Press, Jakarta, 2000, hlm. 110-111
[18] Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara III, Ibid, hlm. 111
[19] Tan Malaka, Gerpolek…op.cit., hlm. 72-73
[20] Tan Malaka, Dari Penjara Ke Penjara I, Teplok Press, Jakarta, 2000.., hlm. 35
[21] Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs, Yayasan Massa, Jakarta, tthlm. ii
[22] Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs, Ibid, hlm. 4
[23] Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs, Ibid, hlm. 5-6
[24] Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs, Ibid, hlm. 9
[25] Tan Malaka, Aksi MassaLoc.cit, hlm. 184

Nama

100 hari kerja,1,14 hari belajar di rumah,1,14 hari libur sekolah,3,7 Inisiatif Udara Bersih Jakata,1,abdullah hehamahua,1,Abu Nawas,2,adamas belva syah devara,2,Ade Armando,3,Agus Lennon,1,Ahimsa,1,ahli distribusi pangan,2,ahli hidrologi,2,ahli pangan,1,ahmad supari,1,Ahmad Yani,1,Ahok,4,air hujan,1,air putih,1,aisyah istri rasulullah,2,aksi cepat tanggap (act_ jakarta care line,1,aktivis,2,Aktivis Mahasiswa 1977-1978,1,Aktual,925,akuntabilitas penanganan covid-19,1,al ghazali,3,Al-Ghazali,1,alat pelindung diri (apd),4,aldi m alizar,1,ali bin abi thalib,2,alienasi,1,alissa wahid,4,Alumni UGM,2,amalan rasulullah,2,amerika serikat,2,amin rais,1,anak,1,anak buah kapal (abk),1,Anak yatim,2,ananta damarjati,9,anatasia wahyudi,41,andi taufan garuda putra,2,Angkringan,12,angkutan publik,1,Anies Baswedan,144,Anugerah Jurnalistik,1,apbn,4,aplikasi,1,aplikasi ruangguru,1,Artikel,27,Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI),1,asyariyyah,1,Atta Halilintar,2,Awalil Rizky,45,Babay Parid Wazdi,2,bada kupat,1,Badan Amil Zakat Nasional (Baznas),3,badan pembina ideologi pancasila (bpip),2,badan penyelenggara jaminan sosial (bpjs) kesehatan,1,Badan Usaha Milik Negara (BUMN),4,bahrul ulum,1,Balai Bahasa Jawa Tengah,1,bambang soesatyo,1,bandara halim perdanakusuma,1,bandit,1,banjir,13,banjir demak,1,banjir jakarta,6,banjir surabaya,1,Bank DKI,1,bank dki jakarta,3,bank indonesia,2,Bank Sampah,1,Banser,1,bantuan sosial (bansos),6,Barisan Jabar,1,Barisan Jateng,39,Barisan Jatim,3,Barisan Jogja,7,barisan kalimantan,1,Barisan News,1,barisan nusantaa,3,Barisan Nusantara,12,barisan nusantara muda menanam,2,barisan nusantara solo,1,Basket,1,batik semarang 16,1,Baznas (Bazis) DKI Jakarta,9,bekerja di rumah,3,belajar bahasa inggris,1,belajar dari rumah,1,belajar di rumah,1,beta wijaya,8,Betawi,4,bhima yudistira,1,binahong,1,Bioskop Rakyat,1,BJ Habibie,6,buah,1,Budaya,15,buku,1,bulan syaban,2,Bundaran HI,1,bus akap,1,bus feeder semarang,1,busthomi rifai,5,buya hamka,1,buya yahya,1,Buzzer,7,cabai,1,Cak Nun,2,calon presiden 2020,1,capres 2024,2,Car Free Day (CFD),1,cebong,1,Cerpen,1,Cheng Ho,1,choi pan goreng,1,Christmas Carol,1,cibubur,1,cipete selatan,1,City 4.0,1,covid-19,102,CPNS,1,cuaca ekstream,1,cuci tangan,1,cukong partai,1,current account,1,daerah,93,dana haji,2,danarto,1,darurat sipil,1,das serayu,1,daun sirih,1,demak,1,Demonstrasi,2,denny ja,1,Denny Siregar,2,Dewan Kesenian,3,dewan kesenian jakarta,1,Dewan Kesenian Semarang,1,dewan masjid indonesia,1,Dewan Pengupahan,1,dewan perwakilan daerah (dpd),1,dialektika,1,dinas bina marga,1,dinas kebudayaan,1,dinas pendidikan,1,dinas sosial,1,Disabilitas,1,Disertasi,2,disinfeksi,2,disinfektan,4,diskusi online,1,ditjen pendidikan islam,1,Djarum Foundation,1,dki jakarta,17,Doa,4,dokter,1,donald trump,1,dongeng utang,3,dprd dki jakarta,3,DPRD Jateng,1,dprd kota semarang,1,dr. sutrisno muslimin,3,drone,1,dua siklon tropis,1,E-Commerce,1,e-ktp,1,Edhie Prayitno Ige,1,Eko Tunas,5,ekonom jalanan,2,Ekonomi,62,ekonomi syariah,1,Entertainment,11,Esai,4,esensialisme,1,Fachrul Razi,2,fadjroel rachman,1,fakta,1,family farming,1,farid gaban,1,farouk abdullah alwyni,3,fasisme,1,fatimah,1,Felix Siau,1,Feminisme,1,Festival Teater,2,Film,4,Film The Santri,4,Filsafat,3,filsafat pendidikan,5,filsafat pendidikan islam,1,Flora dan Fauna 2019,1,flu,1,food station,1,forkompimko jakarta timur,1,formula e,1,forum honores kategori 2 indonesia (fhk21) pegawai honorer,1,Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),1,foto,13,fraksi pkb,1,Freeport,1,Front Pembela Islam (FPI),3,gamelan,1,Ganjar Pranowo,1,gaya hidup,8,Geisz Chalifah,13,gender,1,generasi milenial,1,Gerakan Ansor Peduli,1,gerakan nasional pengawal ulama,1,gerakan persaudaraan muslim indonesia (gpmi),1,gerakan turun tangan,2,Gereja di Karimun,1,Gereja Katolik Santo Joseph,1,gerhana matahari,1,gerhana matahari cincin,1,germas berkat,1,gojek,1,gopay,1,gosok gigi,1,Gowes,2,Gowes Bareng Anies,2,GP Ansor,4,grab,1,gubernur dki jakarta,1,gugus tugas covid-19,1,Gundala,1,gunung merapi,1,guru,3,guru ngaji,1,gus baha,1,Gus Dur,5,Gus Mus,1,Gus Muwafiq,1,gus sholah,1,gus windu el hasmary,1,gusdurian,2,Habib Luthfi bin Yahya,1,hadits,3,haji,3,hand sanitizer,1,Hari Antikorupsi,1,hari buku nasional,1,hari buruh,1,hari lahir pancasila,1,hari peduli sampah nasional,1,hari pendidikan nasional (hardiknas),1,Hari Pohon Sedunia,1,hari puisi nasional,1,hari raya idul fitri,2,hari raya nyepi,1,Hasta Brata,1,herbal,3,Hersubeno Arief,39,hidrologi,2,hidroteknik,1,hidung pesek,1,hidup sehat,1,Hikmah,23,himpunan mahasiswa islam,5,Himpunan Tenaga Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI),1,hindu tamil,1,hmi,5,Hoax,6,hodrometeorologi,1,Honorable Mention dari Komite Sustainable Award (STA),1,hotel grand cempaka,1,hujan,1,hujan malam malam,1,Hukum,9,hukum zakat,1,Humor,7,humor gus dur,1,ibadah haji,1,ibu,1,ibu hami,1,Ibu Kota,1,idul fitri,3,ihya ulumuddin,1,Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI),1,ikatan doketer indonesia (idi),3,ikatan sarjana nahdlatul ulama (isnu),1,iklan,1,imam al ghazali,1,imunitas,1,inalum,1,indo barometer,1,indobarometer,1,Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019,1,industri,1,industri pengolahan,1,Info Pangan Murah September 2019,1,infografis,27,Informasi,19,Inspiratif,13,Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL),1,Institut Harkat Negeri,2,institut harkat negeri (ihn),1,Institut Media Sosial dan Diplomasi,1,Institut Teknologi Bandung (ITB),1,internasional,6,Internasional Book Fair (IIBF),1,investasi,1,ir soekarno,1,iran,1,istri,1,Iwan Samariansyah,1,jahe,1,Jakarta Aman,1,jakarta banjir,7,jakarta lockdown,1,jakarta macet,1,Jakarta Muharam Festival,6,jakarta pusat,1,jakarta ramah sepeda,1,jakarta tanggap darurat bencana,2,jakarta timur,1,jakarta tourism forum (jtf),4,Jakarta Urban Kampung Conference 2019,1,Jakbee,1,jakpreneur,1,jamaah tabligh,2,jamu,1,jamus kalimasada,1,Jantu Sukmaningtyas,3,jaringan gusdurian,4,Jawa,2,Joker,1,joko pekik,1,Jokowi,49,Jurnalistik,1,Kabinet Indonesia Maju,4,Kampus,6,kandank warak,2,kapitalisme,1,karl marx,1,Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU),2,Kartu Jakarta Pintar (KJP),1,kartu prakerja,2,kartu sembako,1,kawasan monas,2,kawasan perkotaan,1,kearifan lokal,1,Kebakaran,6,kebangkrutan negara,1,kebersihan,1,kebudayaan,2,kecerdasan,1,kekerasan anak,1,kelana siwi,1,kelenteng ancol,1,keluarga,3,kemacetan,2,Kementerian Agama,4,kementerian keuangan,1,kementerian luar negei (kemenlu) ri,1,kementerian pendidikan dan kebudayaan,3,kementerian pupr,1,kementerian riset dan teknologi (kemenristek),1,kementrian agama,1,Kemiskinan,2,Kepemimpinan,1,kepiting saos padang,1,kepulauan seribu,3,Keraton Agung Sejagat,1,Kesehatan,22,kesehatan gigi,1,kesejahteraan penduduk,1,Kesenian,8,ketahanan pangan,5,ketua mpr ri,1,ketupat,1,keuangan,1,kh hasyim asyari,1,kh sholahuddin wahid,1,kh. ahmad dahlan,1,KH. Hasyim Asyari,1,KH. Maimun Zubair,1,KH. Maruf Amin,1,Khazanah,38,Khilafah,1,khoirul hidayat,1,ki ageng selo,1,Kisah,11,kisah suskses,1,kolang kaling,1,Kolom,292,Kolonel Hendi Suhendi,1,Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia,1,Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),7,Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),2,Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI),1,Komunikonten,2,Komunitas Film,1,Komunitas Kaligawe,1,komunitas sepeda,1,kongres hmi ke XXXII,1,kongres umat islam,1,koperasi,1,korea utara,1,Korupsi,4,koruptor,1,krisis ekonomi,4,krisis indonesia,2,ktp elektronik,1,Kue,2,kuliah daring,2,Kuliner,9,Lampion,1,lazisnu jateng,1,lebaran,1,Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah (LAZIS),2,Lenong Betawi,1,lepat,1,lesbumi,1,lesbumi nu grobogan,1,libur sekolah,1,Lifestyle,60,limbah,1,Lingkungan Hidup,13,Literasi,3,Literasi Media,1,lockdown,12,logika,1,Lomba Baca Puisi,2,lombok,1,lpmk banjardowo,1,lpmk semarang,1,luhut pandjaitan,3,lukisan,1,Lukman Hakim Hasan,6,lukman wibowo,2,Lukni An Nairi,7,mafia minyak,1,Mahasiswa,9,Mahatma Gandhi,1,mahfud md,3,majelis nasional kahmi,1,majelis taklim bahrul ulum,1,Majelis Ulama Indonesia (MUI),6,Makanan,4,malam nisfu syaban,2,Malam Tahun Baru,1,malang,1,maneken,1,Mardigu Wowiek,1,marhaban ya ramadan 2020,1,Masjid,4,masjid agung sunda kelapa,1,masjid cut meutia,1,masker,4,matematika,1,may day,1,Media Sosial,7,megawati,1,melati air,1,meme,1,Menteri Agama,1,menteri kesehatan,1,menteri keungan,2,menteri koperasi dan ukm,1,merapi,1,merapi erupsi,1,milad hmi ke-73,2,milenial,2,mimbar virtual,5,mitigasi bencana,1,Mobil Esemka,1,Mobil Listrik,1,moda raya terpadu (mrt),1,moderasi agama,1,monas,2,moral hazard,1,muda melawan semarang,1,mudik,2,muhammad chozin,4,muhammad iqbal,1,Muhammad Natsir,1,muhammad said didu,4,Muhammad Syahrur,1,muhammadiyah,3,Muharram,6,Muktamar ke-34 NU,1,multikultural,1,Museum,1,Musik,3,Musik Klasik,2,musik religi,1,Muslim United,1,mw kahmi,1,nabi musa,1,Nadiem Makarim,4,Nadirsyah Hosen,1,Nahdlatul Ulama (NU),7,najwa shihab,2,nana akufo addo,1,nasi goreng,1,nasional,101,nasionalisme,1,Natal,1,nelson mandela,1,Neraca Pembayaran Indonesia (NPI),1,neraca transaksi berjalan,1,new normal,14,News,573,ngabuburit,1,ngehits,3,ngopi,1,ningsih tinampi,1,nissa sabyan,2,nitizen,1,novel baswedan,4,nu kota semarang,2,nu peduli covid-19,1,nurfadilah,1,nuzulul quran,1,nyadran,1,ojek online,2,Olah raga,3,oligarki,1,oligarki ekonomi,1,oligarki politik,1,omnibus law,2,Opini,88,orang orang maneken,1,organisasi kesehatan dunia (who),1,ott kpk,1,pagar nusa,1,paguyuban pedagang warteg,1,Pajak,1,pancasila,2,pandemi covid-19,10,Panel Surya,1,panembahan reso,1,pangan,4,panglima komando operasi pemulihan keamanan dan ketertiban,1,pantai tugulufa,1,Papua,7,parenting,2,partai amanat nasional (PAN),1,partai demokrasi indonesia perjuangan (pdip),5,Partai Gerindra,3,partai kebangkitan bangsa,4,Partai Nasdem,1,Partai Persantuan Pembangunan,1,partai politik,2,Partai Solidaritas Indonesia (PSI),1,paru-paru,1,pasar kaget,1,PD Dharma Jaya,2,Peci,1,Pedagang Kaki Lima (PKL),1,pegawai negeri,1,pekerja seni,2,pelajar jakarta,1,Pelantikan Presiden,1,pelayanan publik,1,pemakaman jenazah covid-19,2,pemakzulan presiden,1,pembatasan kegiatan masyarakat (pkm),1,pembatasan sosial berskala besar (psbb),16,pemilu 2024,1,pemimpin profetik,1,pemkot jakarta barat,1,Pemprov DKI Jakarta,5,pemuda pancasila,1,pemutusan hubungan kerja (phk),2,pendapatan negara,1,Pendidikan,51,pendidikan agama islam,1,Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),6,pendidikan esensialisme,1,pendidikan islam,1,pendidikan progresivisme,2,pendidikan seks,1,pendidikan sosialis,1,pendidikan usia dini,1,pendidikan virtual,1,penggali kubur,1,pengganguran dki jakarta,1,pengobatan alternatif,1,penguasa politik,1,penimbun masker,1,penimbun masker di tangkap,1,penyakit hati,1,penyakit masyarakat,1,pepatah jawa,1,perbankan,3,perhutani,1,perizinan,1,perkiraan cuaca,1,perpustakaan,2,persaudaraan alumni 212,1,pertamina,1,pertumbuhan ekonomi,2,perumda pasar jaya,1,petruk,1,petruk dadi ratu,1,physical distancing,1,pilkades kendal,1,pilwakot semarang,2,piter abdullah,1,pkb kota semarang,11,pkk,1,planetarium jakarta,1,polda jateng,1,Poligami,1,Polisi,3,Politik,27,polri,1,pondok modern gontor,1,pondok modern tazakka,1,Pondok Pesantren,6,pondok pesantren al fatah temboro,1,Pondok Pesantren Sidogiri,1,Pop Culture,1,portofolio,1,posko nu peduli,1,posko tanggap darurat,1,Prabowo Subianto,4,Prank,1,Prasidatama,1,Presiden,2,presiden ghana,1,presiden xi jinping,1,prie gs,1,pro demokrasi (prodem),1,produk domestik bruto (PDB),1,Prof. Dr. Aliyah Alganis Rasyid Baswedan,1,program padat karya tunai,2,psikologi,1,pt food station tjipinang jaya,1,PT Jiwasraya,4,pt pembangunan jaya ancol,1,puan nusantara,3,puasa,7,puasa ramadan,2,Puisi,27,puji hartoyo,1,pulang kampung,1,pulau jawa,1,punakawan,1,purbalingga,1,puskesmas,1,putri nur wijayanti,20,Quotes,1,quraish shihab,1,ra kartini,1,Radikal Islam,1,Raja Keraton Agung Sejagat,1,rak buku,1,ramadan,9,rapid test,1,rasio defesit apbn,1,rasio utang,2,Redaksi,2,refly harun,1,reformasi,3,Reklamasi,2,relawan gugus tugas covid-19,3,Resep Masakan,1,Resesi,9,resesi ekonomi,1,restoran,1,Reuni 212,4,revitalisasi kawasan monas,1,revitalisasi tim,1,revolusi,1,revolusi sosial,1,rindu biru,1,risma,1,riza patria,3,rob,1,Rocky Gerung,4,rofandi hartanto,4,Rokok,1,roni hidayat,1,rptra krendang,1,Ruang Baca Jakarta,1,Ruang Ketiga Jakarta,1,Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA),1,ruangguru,2,rumah buku,1,rumah sakit darurat corona virus,1,ruu haluan ideologi pancasila (hip),1,saat suharto,1,saat suharto amjad,1,sajak sekolah,1,salman dianda anwar,4,Sam Po Kong,1,samin surasentika,1,Sampah,4,santiga seafood,1,Santri,3,sarah keihl,1,Sastra,26,sate kuah pontianak,1,satpol pp,2,satu dekade gus dur,1,Sayembara Desain,1,sekolah,2,Sekolah Aman Asap,1,sekolah menengah kejuruan (smk),1,sekolah online,1,selempang wisuda,1,semarang hebat sodri,1,sembako,4,seni,3,seniman,3,Sepak Bola,1,Septic Tank,1,Sertifikat Tanah,1,shalat idul fitri,2,sigit dwi saputro,2,silaturahim virtual,1,silaturahmi digital,1,simpul indonesia,1,Singapore Institute of Planners (SIP) Awards 2019,1,Singkong,1,siti khadijah,3,skripsi,1,smait insan cendekia madani,1,smp bakti mulya 400,1,social distancing,1,Soeharto,1,solidaritas,1,Sosok,3,Sri Bintang Pamungkas,1,sri mulyani,8,stay at home,2,sudirman said,1,Sumpah Pemuda,1,Sunan Kalijaga,2,surat izin keluar masuk (sikm),2,surat utang,2,suryadi nomi,4,Susilo Bambang Yudhoyono,1,susu,1,syahrul efendi dasopang,1,syakir daulay,1,syekh abdul qadir al jilani,1,syiah,1,Tafsir,3,tahu gejrot,1,Tahun Baru Islam,1,taipan,1,Taman Impian Jaya Ancol,5,tamsil linrung,2,tan malaka,1,tanaman,1,tandon beras,1,tarekat cinta,1,Tari,2,Tasawuf,2,tatak ujiyati,39,teater,2,teater anak,1,teha edy djohar,1,Teknologi,3,telekomunikasi,1,tenaga medis,2,tendensi kesenian,1,Tentara Nasional Indonesia (TNI),1,terminal rawamangun,1,teten masduki,1,The Wall Steet Journal,1,tim,1,tim gubernur untuk percepatan pembangunan (tgupp),1,tim transisi,1,tiongkok,1,tips,1,tito karnavian,1,tki,1,togel,3,togel semarang,2,Tony Rosyid,33,Toto Santoso,1,toxic parent,1,trans jakarta,1,transaksi berjalan,2,transformasi fpi,1,transportasi,2,tsunami,1,Tumenggung Purbonagoro,1,Tumenggung Purbonegoro,1,tunjangan hari raya (thr),1,Turun Tangan,7,tvri,1,ubedilah badrun,4,uin walisongo semarang,1,ujian nasional (un),3,ular,1,ular sanca,1,umar bin khattab,1,umkm,1,Umroh,1,universitas al azhar mesir,1,Universitas Gajah Mada (UGM),2,Universitas Islam Indonesia (UII),1,universitas jenderal soedirman (unsoed) purwokerto,1,Universitas Suryakancana,1,universitas trunojoyo madura,3,update covid-19,25,urban farming,2,urbanisasi,1,usaha,1,usaha mikro kecil (umk),1,usaha mikro kecil menengah (umkm),7,Ustadz Abdul Somad,1,utang indonesia,1,Utang Luar Negeri Indonesia,3,uu karantina kesehatan,1,ventilator pasien covid-19,1,video,33,virus corona,50,Wakaf,1,Wakaf Produktif,1,wakil gubernud dki jakarta,1,walikota jakarta,1,walikota semarang,1,walkot farm,1,waluyo suryadi,1,Warak Semarang,1,Warak University,4,wardjito soeharso,1,warung kopi,1,wasiat allah,1,Wayang,4,wedang ronde,1,whatshapp,1,wildan syukri niam,10,Wiranto,5,Wisata,8,Wisata Semarang,1,wisma atlet,2,wisuda online,1,work form home,2,ws rendra,2,Yaman,1,yanto,3,yanto phd,6,Youtube,5,yudian wahyudi,2,yusdi usman,3,zakat,2,zakat fitrah,2,zakat uang,1,zeng wei jian,1,Zodiak,1,Zuhud,2,Zulkifli Hasan,1,
ltr
item
Media Jaringan Nasional - Jarnas.id: Tan Malaka dan Revolusi: Sosial, Ekonomi, Politik dan Pendidikan
Tan Malaka dan Revolusi: Sosial, Ekonomi, Politik dan Pendidikan
Bermula dari pandangan sejarah masa lalu, Tan Malaka melihat bahwa ketidak- setaraan sosial dalam masyarakat terjadi karena adanya keinginan sebagian kecil orang mencaplok sebagian yang lainnya.
https://1.bp.blogspot.com/-De0zbR9wZBg/Xos7dMzm-3I/AAAAAAAABvA/7p1jWl-u7YUAXVcYdrrU19oPWdy5GD8FACLcBGAsYHQ/s400/Tan%2Bmalaka.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-De0zbR9wZBg/Xos7dMzm-3I/AAAAAAAABvA/7p1jWl-u7YUAXVcYdrrU19oPWdy5GD8FACLcBGAsYHQ/s72-c/Tan%2Bmalaka.jpg
Media Jaringan Nasional - Jarnas.id
https://www.jarnas.id/2020/04/tan-malaka-dan-revolusi-sosial.html
https://www.jarnas.id/
https://www.jarnas.id/
https://www.jarnas.id/2020/04/tan-malaka-dan-revolusi-sosial.html
true
5480613612464417000
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy