Wajah Gelap 22 Tahun Reformasi

Diamana aktivis 98 yang dulu lantang berteriak demokrasi, berteriak bela rakyat, berteriak bela hak azasi, berteriak bela konstitusi?

Ubeidilah Badrun

Oleh: Ubedilah Badrun
(Analis Sosial Politik UNJ, pendiri FKSMJ yang menjadi salah satu motor penting gerakan reformasi 1998)



Barisannews.com - Setiap kali mau menulis tentang peristiwa reformasi 1998 dan melakukan semacam refleksi selalu muncul kritik dalam pikiran dan memunculkan semacam gugatan. Apa hebatnya reformasi ketika derita rakyat jelata terus terjadi? Apa hebatnya reformasi ketika demokrasi masih terus dinodai? Apa hebatnya reformasi ketika Hak Azasi terus dikebiri dan pelanggarnya tak pernah diadili? Apa hebatnya reformasi ketika korupsi terus mewarmai negeri? Lalu, layakah reformasi dijadikan pijakan untuk refleksi?

Setidaknya pertanyaan - pertanyaan itu menggelitik nalar dan nurani ini. Namun momentum ini setiap tahun selalu menggugah ribuan bahkan mungkin jutaan anak negeri ini untuk lakukan semacam kontemplasi.

Pertanyaan dan gugatan diatas bagi aktivis yang masih merawat nurani dan akal sehatnya tak ada jawaban yang memuaskan dari setiap rezim, dari rezim Habibie sampai Jokowi. Tak ubahnya hanya berganti rezim. Berganti topeng tapi tubuh politiknya masih sama. Ya, meminjam perspektif Erving Goffman dalam bukunya The Presentational of Self in Everyday Life (1990), pergantian topeng itu semacam dramaturgi di arena politik yang seringkali bersifat teateris, seolah berubah, seolah pro demokrasi, seolah pro rakyat.

Maka tidak heran kemudian pada rezim terakhir ini banyak yang menilai reformasi benar-benar 'ditopengi', dikorupsi dan dikhianati. UU Nomor 11 tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak, UU Nomor 19 tahun 2019 tentang KPK, Perpu No 1 2020 yang baru saja disahkan menjadi Undang-Undang, RUU Minerba yang baru disahkan menjadi Undang-undang, RUU Cipta kerja (Omnibus Law), menaikan iuran BPJS ditengah derita rakyat, dll adalah sederet regulasi penghianatan pada wong cilik, lapisan sosial paling menderita di republik ini. Semua regulasi itu lebih berpihak pada oligarki ekonomi dan oligarki politik. Ini bertentangan dengan spirit reformasi untuk menghadirkan kesejahteraan rakyat.

22 tahun lalu hari ini adalah hari pendudukan gedung DPR/MPR, sebelumnya berbulan-bulan konsolidasi gagasan, aksi demonstrasi di kampus hingga di jalanan. Peluh, darah, airmata bahkan nyawa telah dikorbankan. Hingga kemudian pada 21 Mei 1998 Soeharto legowo turun dari tahta kekuasaan. Lalu, apa sesungguhnya gagasan reformasi?

Gagasan Substantif Reformasi
Gagasan reformasi hadir sesungguhnya bukan untuk memberi karpet merah bagi aktivisnya untuk mendapat madu kekuasaan. Apalagi ada yang merasa sebagai generasi yang tidak diinginkan, karena tidak mendapatkan madu kekuasaan atau karena merasa diabaikan. Bukan itu, tapi rakyat jelata harus dimuliakan.

Soal kekuasaan di era ini tak ada yang gratis karena demokrasi pasar, demokrasi citra yang berbiaya mahal sengaja dibuat rezim untuk mereka yang dinilai memiliki kapasitas dan 'isi tas' yang tak terbatas, dan itu artinya memberi karpet merah pada intervensi besar pemilik modal (oligark ekonomi).

Diskursus gagasan reformasi yang dilakukan berbulan-bulan pada waktu itu secara substantif sesungguhnya untuk menghadirkan demokrasi, menegakkan hak azasi, menjunjung tinggi nalar konstitusi, menghadirkan kesejahteraan rakyat, menegakkan keadilan, dan memberantas korupsi.

Demokrasi menjadi sangat penting menjadi gagasan utama reformasi karena problem utama rezim orde baru saat itu adalah otoriterianisme berkedok demokrasi pancasila. Padahal otoriterianisme. Inilah pintu yang menumbuh suburkan praktek korupsi dan pelanggaran HAM saat itu. Disaat yang sama problem kemiskinan dan ketidakadilan juga semakin meluas.

Banyak pemikir yang dirujuk aktivis tahun 90-an tentang pentingnya menghadirkan demokrasi. Dari 'pemikir kiri' (Marxian), 'pemikir kanan' (berbasis agama), 'pemikir nasionalis' (Soekarnois), hingga pemikir moderat pluralis seperti Robert Dahl. Dalam buku Democracy and Its Critics (Robert Dahl, 1989) yang di era Soeharto buku ini banyak menjadi bahan diskursus mahasiswa FISIP mengingatkan bahwa sebuah sistem sudah bisa dikatakan demokratis sepenuhnya jika ada “effective participation by citizens” dan “voting equality among citizens”. Dua kriteria ini saja tidak terlihat pada praktik politik dimasa orde baru karena yang terjadi adalah pseudo democracy, demokrasi semu.

Diskursus gagasan demokrasi itu beberapa bulan sebelum jatuhnya Soeharto menjadi santapan utama bagi para aktivis. Karenanya agenda demokratisasi menjadi agenda utama gerakan reformasi disamping agenda mewujudkan kesejahteraan rakyat dan memberantas korupsi.

Apa Kabar Reformasi
Pertanyaan sederhana tetapi pokok dan rasional untuk refleksi reformasi adalah apa kabar gagasan itu hari ini?

Standar dasar untuk membaca Demokrasi di suatu negara adalah dengan melihat Indeks Demokrasinya. Dalam lima tahun terakhir ini Indeks Demokrasi Indonesia cenderung memburuk, bahkan laporan terakhir The Economist Intelligence Unit (2019) yang menjadi berita media masa pada Januari 2020 menyebutkan indikator kebebasan sipil di Indonesia hanya mendapat nilai 5,5 dan secara umum Indeks Demokrasi Indonesia hanya mencapai angka 6,48 dalam skala 0 - 10. Kalau menggunakan skala nilai akademik di Universitas itu sama artinya mendapat nilai C.Nilai yang mendekati tidak lulus dan tidak memenuhi standar nilai ketuntasan studi mahasiswa yang baik.

Apa kabar kesejahteraan rakyat? Ini diantaranya bisa dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, jumlah pengangguran. Dalam lima tahun tetakhir angka pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stagnan melambat diangka 5 % padahal janji politiknya 7%. Bahkan di kwartal I tahun 2020 ini angka pertumbuhan ekonomi Indonesia makin memburuk diangka 2,97% secara year on year (yoy), jauh dari target. Sebab Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 akan tertahan di kisaran 4,5 persen sampai 4,6 persen karena virus corona. Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih buruk dari Vietnam yang angka pertumbuhan ekonominya di kwartal I 2020 sebesar 3,8%.

Soal angka kemiskinan dan pengangguran dipastikan tahun ini semakin memburuk, bukan hanya karena Covid-19 tetapi juga memang tata kelola ekonomi pemerintah saat ini bermasalah. Berdasarkan data dari Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas, 2020) memproyeksikan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia akan bertambah 4,22 juta orang pada 2020. Sementara jumlah penduduk miskin pada akhir 2020 diperkirakan akan bertambah 2 juta orang dibandingkan data September 2019. Itu data resmi, faktanya lebih dari itu. Karena soal data pemerintah masih menyimpan masalah serius.

Dari sisi Hak Azasi Manusia? Dalam lima tahun terakhir sampai saat ini tidak ada kemajuan. Kasus pelanggaran HAM yang lama tidak ada satupun yang dituntaskan, dari kasus kerusuhan Mei 1998 sampai kasus Munir. Bahkan kasus baru bermunculan. Pemerintah saat ini terlihat mengingkari janji penegakan HAM sebagaimana yang dicantumkan dalam Program Nawacita.

Catatan miring HAM Ini diantaranya bisa dilihat dari kasus-kasus baru, misalnya kasus penembakan dua mahasiswa Universitas Haluuleo Kendari saat demonstrasi reformasi dikorupsi 26 September 2019 lalu. Bisa juga dicermati dari Kriminalisasi yang dialami Dandhy Dwi Laksono, jurnalis yang kerap kali mengungkap pelanggaran HAM di Papua maupun pelanggaran di sektor lingkungan. Ananda Badudu, aktivis yang menggalang dana saat marak aksi demonstrasi bertema “Reformasi Dikorupsi”, yang sempat ditangkap polisi. Atau kasus penangkapan Ravio Patra, penangkapan aktivis aksi kamisan, dan lainnya.

Korupsi? Juga masih parah. Kasus korupsi milyaran hingga triliunan rupiah masih terjadi. Dari kasus E-KTP, Jiwasraya yang nilainya triliunan rupiah hingga kasus Nurhadi dan Harun Masiku yang nilainya milyaran rupiah.

Data-data diatas tentu meyakinkan siapapun bahwa benar reformasi telah dikorupsi dan dikhianati.

Lalu, Dimana Aktivis 98?
Pertanyaanya kemudian, diamana aktivis 98 yang dulu lantang berteriak demokrasi, berteriak bela rakyat, berteriak bela hak azasi, berteriak bela konstitusi?!

Gerakan Reformasi 1998 adalah gerakan sosial transformatif yang tidak memiliki kepemimpinan tunggal. Simpul-simpul rakyat, komunitas, entitas bergerak memiliki pemimpin pemimpin kelompoknya sendiri. Ratusan ribu mahasiswa waktu itu dipimpin secara sporadis oleh ribuan pemimpin kelompok aksi mahasiswa yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Ini diantaranya yang membuat gerakan mahasiswa 1998 tidak bisa dikebiri oleh rezim orde baru, berbeda dengan gerakan mahasiswa 1974, 1978, dan gerakan mahasiswa 1980an yang memiliki kepemimpinan menonjol yang kemudian mudah diakhiri oleh rezim dengan penangkapan atau pembubaran melalui peristiwa rusuh.

Gerakan reformasi 1998 milik sejarah, generasi yang diinginkan sejarah pada masanya, ia telah membuat sejarah penting mengakhiri otoriterianisme dan membuka angin demokrasi. Meski saat ini telah dikorupsi dan dikhianati. Jadi aktivis 98 bukan generasi yang tidak diinginkan tetapi generasi yang diinginkan oleh sejarah, bukan oleh kekuasaan.

Dimana mereka sekarang? Mereka berpencar di setiap ruang kontribusi, menjadi profesional, menjadi dokter, menjadi akademisi, menjadi guru, menjadi guru besar, menjadi aktivis NGO, menjadi jurnalis, intelektual publik, buruh, wiraswasta, pedagang, nelayan, petani, ibu rumah tangga, dan sebagian kecil menjadi politisi. Maka jangan heran jika ada gerakan buruh yang luar biasa, ada petani dan nelayan bergerak, ada intelektual publik yang kritis, ada dokter dan profesional yang berkinerja hebat, tapi juga ada emak-emak yang revolusioner. Jangan heran juga meluasnya solidaritas sosial ditengah pandemi covid-19 karena spirit aktivismenya. Watak kritis dan aktivisme mereka belum hilang ditelan zaman.

Tetapi memang harap dicatat ada aktivis 98 yang menjadi anggota DPR baik dengan keringat sendiri maupun dibiayai oligarki. Baik di DPRD maupun DPRRI.

Mereka berjuang seperti anak macan sendirian ditengah ribuan harimau oligarki. Tidak berdaya. Misalnya ketika ada 9 kali kenaikan harga BBM sejak 2014 sampai saat ini tidak ada yang berteriak lantang menolak, meski dulu waktu jadi aktivis mahasiswa mengaku berteriak paling lantang menolak kenaikan BBM. Sejumlah undang-undang yang di produksi rezim ini yang tidak pro rakyat sayup-sayup terdengar ada yang menolak tetapi ujung-ujungnya hanya menjadi stempel pemerintah. Tidak berdaya, atau mungkin juga terjerat kenikmatan lalu berdalih tidak berdaya. Tetapi apapun itu, mereka yang di DPR sudah berikhtiar memilih jalan politik.

Jadi pertanyaan dimana aktivis 98 saat ini? jawabanya mereka berada dimana-mana, dibanyak area kontribusi. Tetapi karena penghianatan elit yang memproduksi regulasi yang memanjakan oligarki, politik berbiaya mahal, mereka aktivis 98 sangat sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk berada di lapisan elit strategis negeri ini. Sementara, anak-anak oligarki dengan mudah menikmati kekuasaan tanpa visi peradaban yang progresif tetapi lebih terlihat untuk menumpuk kekayaan.

Jadi ada benarnya jika ada yang mengatakan arah reformasi kacau memang karena yang menggagas reformasi tak pernah diberi ruang artikulatif untuk memimpin negeri ini.

Jika Demokrasi terus di korupsi dan Reformasi terus dikhianati (wajah gelap reformasi), maka jangan heran jika pada waktunya anak-anak macan dari berbagai penjuru area di negeri ini menjadi harimau buas pada waktunya untuk menghadirkan episode baru republik ini menuju sejatinya cita-cita republik. Cita-cita proklamasi 1945. Apakah kini waktunya? Wallahua'lam bisshowab.
Nama

100 hari kerja,1,14 hari belajar di rumah,1,14 hari libur sekolah,3,7 Inisiatif Udara Bersih Jakata,1,abdullah hehamahua,1,Abu Nawas,2,adamas belva syah devara,2,Ade Armando,3,Agus Lennon,1,Ahimsa,1,ahli distribusi pangan,2,ahli hidrologi,2,ahli pangan,1,ahmad supari,1,Ahmad Yani,1,Ahok,4,air hujan,1,air putih,1,aisyah istri rasulullah,2,aksi cepat tanggap (act_ jakarta care line,1,aktivis,2,Aktivis Mahasiswa 1977-1978,1,Aktual,926,akuntabilitas penanganan covid-19,1,al ghazali,3,Al-Ghazali,1,alat pelindung diri (apd),4,aldi m alizar,1,ali bin abi thalib,2,alienasi,1,alissa wahid,4,Alumni UGM,2,amalan rasulullah,2,amerika serikat,2,amin rais,1,anak,1,anak buah kapal (abk),1,Anak yatim,2,ananta damarjati,9,anatasia wahyudi,41,andi taufan garuda putra,2,Angkringan,12,angkutan publik,1,Anies Baswedan,144,Anugerah Jurnalistik,1,apbn,4,aplikasi,1,aplikasi ruangguru,1,Artikel,27,Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI),1,asyariyyah,1,Atta Halilintar,2,Awalil Rizky,45,Babay Parid Wazdi,2,bada kupat,1,Badan Amil Zakat Nasional (Baznas),3,badan pembina ideologi pancasila (bpip),2,badan penyelenggara jaminan sosial (bpjs) kesehatan,1,Badan Usaha Milik Negara (BUMN),4,bahrul ulum,1,Balai Bahasa Jawa Tengah,1,bambang soesatyo,1,bandara halim perdanakusuma,1,bandit,1,banjir,13,banjir demak,1,banjir jakarta,6,banjir surabaya,1,Bank DKI,1,bank dki jakarta,3,bank indonesia,2,Bank Sampah,1,Banser,1,bantuan sosial (bansos),6,Barisan Jabar,1,Barisan Jateng,39,Barisan Jatim,3,Barisan Jogja,7,barisan kalimantan,1,Barisan News,1,barisan nusantaa,3,Barisan Nusantara,12,barisan nusantara muda menanam,2,barisan nusantara solo,1,Basket,1,batik semarang 16,1,Baznas (Bazis) DKI Jakarta,9,bekerja di rumah,3,belajar bahasa inggris,1,belajar dari rumah,1,belajar di rumah,1,beta wijaya,8,Betawi,4,bhima yudistira,1,binahong,1,Bioskop Rakyat,1,BJ Habibie,6,buah,1,Budaya,16,buku,1,bulan syaban,2,Bundaran HI,1,bus akap,1,bus feeder semarang,1,busthomi rifai,5,buya hamka,1,buya yahya,1,Buzzer,7,cabai,1,Cak Nun,2,calon presiden 2020,1,capres 2024,2,Car Free Day (CFD),1,cebong,1,Cerpen,1,Cheng Ho,1,choi pan goreng,1,Christmas Carol,1,cibubur,1,cipete selatan,1,City 4.0,1,covid-19,102,CPNS,1,cuaca ekstream,1,cuci tangan,1,cukong partai,1,current account,1,daerah,93,dana haji,2,danarto,1,darurat sipil,1,das serayu,1,daun sirih,1,demak,1,Demonstrasi,2,denny ja,1,Denny Siregar,2,Dewan Kesenian,3,dewan kesenian jakarta,1,Dewan Kesenian Semarang,1,dewan masjid indonesia,1,Dewan Pengupahan,1,dewan perwakilan daerah (dpd),1,dialektika,1,dinas bina marga,1,dinas kebudayaan,1,dinas pendidikan,1,dinas sosial,1,Disabilitas,1,Disertasi,2,disinfeksi,2,disinfektan,4,diskusi online,1,ditjen pendidikan islam,1,Djarum Foundation,1,dki jakarta,17,Doa,4,dokter,1,donald trump,1,dongeng utang,3,dprd dki jakarta,3,DPRD Jateng,1,dprd kota semarang,1,dr. sutrisno muslimin,3,drone,1,dua siklon tropis,1,E-Commerce,1,e-ktp,1,Edhie Prayitno Ige,1,Eko Tunas,5,ekonom jalanan,2,Ekonomi,62,ekonomi syariah,1,Entertainment,11,Esai,4,esensialisme,1,Fachrul Razi,2,fadjroel rachman,1,fakta,1,family farming,1,farid gaban,1,farouk abdullah alwyni,3,fasisme,1,fatimah,1,Felix Siau,1,Feminisme,1,Festival Teater,2,Film,4,Film The Santri,4,Filsafat,3,filsafat pendidikan,5,filsafat pendidikan islam,1,Flora dan Fauna 2019,1,flu,1,food station,1,forkompimko jakarta timur,1,formula e,1,forum honores kategori 2 indonesia (fhk21) pegawai honorer,1,Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),1,foto,13,fraksi pkb,1,Freeport,1,Front Pembela Islam (FPI),3,gamelan,1,Ganjar Pranowo,1,gaya hidup,8,Geisz Chalifah,13,gender,1,generasi milenial,1,Gerakan Ansor Peduli,1,gerakan nasional pengawal ulama,1,gerakan persaudaraan muslim indonesia (gpmi),1,gerakan turun tangan,2,Gereja di Karimun,1,Gereja Katolik Santo Joseph,1,gerhana matahari,1,gerhana matahari cincin,1,germas berkat,1,gojek,1,gopay,1,gosok gigi,1,Gowes,2,Gowes Bareng Anies,2,GP Ansor,4,grab,1,gubernur dki jakarta,1,gugus tugas covid-19,1,Gundala,1,gunung merapi,1,guru,3,guru ngaji,1,gus baha,1,Gus Dur,5,Gus Mus,1,Gus Muwafiq,1,gus sholah,1,gus windu el hasmary,1,gusdurian,2,Habib Luthfi bin Yahya,1,hadits,3,haji,3,hand sanitizer,1,Hari Antikorupsi,1,hari buku nasional,1,hari buruh,1,hari lahir pancasila,1,hari peduli sampah nasional,1,hari pendidikan nasional (hardiknas),1,Hari Pohon Sedunia,1,hari puisi nasional,1,hari raya idul fitri,2,hari raya nyepi,1,Hasta Brata,1,herbal,3,Hersubeno Arief,39,hidrologi,2,hidroteknik,1,hidung pesek,1,hidup sehat,1,Hikmah,23,himpunan mahasiswa islam,5,Himpunan Tenaga Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI),1,hindu tamil,1,hmi,5,Hoax,6,hodrometeorologi,1,Honorable Mention dari Komite Sustainable Award (STA),1,hotel grand cempaka,1,hujan,1,hujan malam malam,1,Hukum,9,hukum zakat,1,Humor,7,humor gus dur,1,ibadah haji,1,ibu,1,ibu hami,1,Ibu Kota,1,idul fitri,3,ihya ulumuddin,1,Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI),1,ikatan doketer indonesia (idi),3,ikatan sarjana nahdlatul ulama (isnu),1,iklan,1,imam al ghazali,1,imunitas,1,inalum,1,indo barometer,1,indobarometer,1,Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019,1,industri,1,industri pengolahan,1,Info Pangan Murah September 2019,1,infografis,27,Informasi,19,Inspiratif,13,Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL),1,Institut Harkat Negeri,2,institut harkat negeri (ihn),1,Institut Media Sosial dan Diplomasi,1,Institut Teknologi Bandung (ITB),1,internasional,6,Internasional Book Fair (IIBF),1,investasi,1,ir soekarno,1,iran,1,istri,1,Iwan Samariansyah,1,jahe,1,Jakarta Aman,1,jakarta banjir,7,jakarta lockdown,1,jakarta macet,1,Jakarta Muharam Festival,6,jakarta pusat,1,jakarta ramah sepeda,1,jakarta tanggap darurat bencana,2,jakarta timur,1,jakarta tourism forum (jtf),4,Jakarta Urban Kampung Conference 2019,1,Jakbee,1,jakpreneur,1,jamaah tabligh,2,jamu,1,jamus kalimasada,1,Jantu Sukmaningtyas,3,jaringan gusdurian,4,Jawa,2,Joker,1,joko pekik,1,Jokowi,49,Jurnalistik,1,Kabinet Indonesia Maju,4,Kampus,6,kandank warak,2,kapitalisme,1,karl marx,1,Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU),2,Kartu Jakarta Pintar (KJP),1,kartu prakerja,2,kartu sembako,1,kawasan monas,2,kawasan perkotaan,1,kearifan lokal,1,Kebakaran,6,kebangkrutan negara,1,kebersihan,1,kebudayaan,2,kecerdasan,1,kekerasan anak,1,kelana siwi,1,kelenteng ancol,1,keluarga,3,kemacetan,2,Kementerian Agama,4,kementerian keuangan,1,kementerian luar negei (kemenlu) ri,1,kementerian pendidikan dan kebudayaan,3,kementerian pupr,1,kementerian riset dan teknologi (kemenristek),1,kementrian agama,1,Kemiskinan,2,Kepemimpinan,1,kepiting saos padang,1,kepulauan seribu,3,Keraton Agung Sejagat,1,Kesehatan,22,kesehatan gigi,1,kesejahteraan penduduk,1,Kesenian,8,ketahanan pangan,5,ketua mpr ri,1,ketupat,1,keuangan,1,kh hasyim asyari,1,kh sholahuddin wahid,1,kh. ahmad dahlan,1,KH. Hasyim Asyari,1,KH. Maimun Zubair,1,KH. Maruf Amin,1,Khazanah,38,Khilafah,1,khoirul hidayat,1,ki ageng selo,1,Kisah,11,kisah suskses,1,kolang kaling,1,Kolom,292,Kolonel Hendi Suhendi,1,Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia,1,Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),7,Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),2,Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI),1,Komunikonten,2,Komunitas Film,1,Komunitas Kaligawe,1,komunitas sepeda,1,kongres hmi ke XXXII,1,kongres umat islam,1,koperasi,1,korea utara,1,Korupsi,4,koruptor,1,krisis ekonomi,4,krisis indonesia,2,ktp elektronik,1,Kue,2,kuliah daring,2,Kuliner,9,Lampion,1,lazisnu jateng,1,lebaran,1,Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah (LAZIS),2,Lenong Betawi,1,lepat,1,lesbumi,1,lesbumi nu grobogan,1,libur sekolah,1,Lifestyle,60,limbah,1,Lingkungan Hidup,13,Literasi,3,Literasi Media,1,lockdown,12,logika,1,Lomba Baca Puisi,2,lombok,1,lpmk banjardowo,1,lpmk semarang,1,luhut pandjaitan,3,lukisan,1,Lukman Hakim Hasan,6,lukman wibowo,2,Lukni An Nairi,7,mafia minyak,1,Mahasiswa,9,Mahatma Gandhi,1,mahfud md,3,majelis nasional kahmi,1,majelis taklim bahrul ulum,1,Majelis Ulama Indonesia (MUI),6,Makanan,4,malam nisfu syaban,2,Malam Tahun Baru,1,malang,1,maneken,1,Mardigu Wowiek,1,marhaban ya ramadan 2020,1,Masjid,4,masjid agung sunda kelapa,1,masjid cut meutia,1,masker,4,matematika,1,may day,1,Media Sosial,7,megawati,1,melati air,1,meme,1,Menteri Agama,1,menteri kesehatan,1,menteri keungan,2,menteri koperasi dan ukm,1,merapi,1,merapi erupsi,1,milad hmi ke-73,2,milenial,2,mimbar virtual,5,mitigasi bencana,1,Mobil Esemka,1,Mobil Listrik,1,moda raya terpadu (mrt),1,moderasi agama,1,monas,2,moral hazard,1,muda melawan semarang,1,mudik,2,muhammad chozin,4,muhammad iqbal,1,Muhammad Natsir,1,muhammad said didu,4,Muhammad Syahrur,1,muhammadiyah,3,Muharram,6,Muktamar ke-34 NU,1,multikultural,1,Museum,1,Musik,3,Musik Klasik,2,musik religi,1,Muslim United,1,mw kahmi,1,nabi musa,1,Nadiem Makarim,4,Nadirsyah Hosen,1,Nahdlatul Ulama (NU),7,najwa shihab,2,nana akufo addo,1,nasi goreng,1,nasional,101,nasionalisme,1,Natal,1,nelson mandela,1,Neraca Pembayaran Indonesia (NPI),1,neraca transaksi berjalan,1,new normal,14,News,573,ngabuburit,1,ngehits,3,ngopi,1,ningsih tinampi,1,nissa sabyan,2,nitizen,1,novel baswedan,4,nu kota semarang,2,nu peduli covid-19,1,nurfadilah,1,nuzulul quran,1,nyadran,1,ojek online,2,Olah raga,3,oligarki,1,oligarki ekonomi,1,oligarki politik,1,omnibus law,2,Opini,88,orang orang maneken,1,organisasi kesehatan dunia (who),1,ott kpk,1,pagar nusa,1,paguyuban pedagang warteg,1,Pajak,1,pancasila,2,pandemi covid-19,10,Panel Surya,1,panembahan reso,1,pangan,4,panglima komando operasi pemulihan keamanan dan ketertiban,1,pantai tugulufa,1,Papua,7,parenting,2,partai amanat nasional (PAN),1,partai demokrasi indonesia perjuangan (pdip),5,Partai Gerindra,3,partai kebangkitan bangsa,4,Partai Nasdem,1,Partai Persantuan Pembangunan,1,partai politik,2,Partai Solidaritas Indonesia (PSI),1,paru-paru,1,pasar kaget,1,PD Dharma Jaya,2,Peci,1,Pedagang Kaki Lima (PKL),1,pegawai negeri,1,pekerja seni,2,pelajar jakarta,1,Pelantikan Presiden,1,pelayanan publik,1,pemakaman jenazah covid-19,2,pemakzulan presiden,1,pembatasan kegiatan masyarakat (pkm),1,pembatasan sosial berskala besar (psbb),16,pemilu 2024,1,pemimpin profetik,1,pemkot jakarta barat,1,Pemprov DKI Jakarta,5,pemuda pancasila,1,pemutusan hubungan kerja (phk),2,pendapatan negara,1,Pendidikan,51,pendidikan agama islam,1,Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),6,pendidikan esensialisme,1,pendidikan islam,1,pendidikan progresivisme,2,pendidikan seks,1,pendidikan sosialis,1,pendidikan usia dini,1,pendidikan virtual,1,penggali kubur,1,pengganguran dki jakarta,1,pengobatan alternatif,1,penguasa politik,1,penimbun masker,1,penimbun masker di tangkap,1,penyakit hati,1,penyakit masyarakat,1,pepatah jawa,1,perbankan,3,perhutani,1,perizinan,1,perkiraan cuaca,1,perpustakaan,2,persaudaraan alumni 212,1,pertamina,1,pertumbuhan ekonomi,2,perumda pasar jaya,1,petruk,1,petruk dadi ratu,1,physical distancing,1,pilkades kendal,1,pilwakot semarang,2,piter abdullah,1,pkb kota semarang,11,pkk,1,planetarium jakarta,1,polda jateng,1,Poligami,1,Polisi,3,Politik,27,polri,1,pondok modern gontor,1,pondok modern tazakka,1,Pondok Pesantren,6,pondok pesantren al fatah temboro,1,Pondok Pesantren Sidogiri,1,Pop Culture,1,portofolio,1,posko nu peduli,1,posko tanggap darurat,1,Prabowo Subianto,4,Prank,1,Prasidatama,1,Presiden,2,presiden ghana,1,presiden xi jinping,1,prie gs,1,pro demokrasi (prodem),1,produk domestik bruto (PDB),1,Prof. Dr. Aliyah Alganis Rasyid Baswedan,1,program padat karya tunai,2,psikologi,1,pt food station tjipinang jaya,1,PT Jiwasraya,4,pt pembangunan jaya ancol,1,puan nusantara,3,puasa,7,puasa ramadan,2,Puisi,27,puji hartoyo,1,pulang kampung,1,pulau jawa,1,punakawan,1,purbalingga,1,puskesmas,1,putri nur wijayanti,20,Quotes,1,quraish shihab,1,ra kartini,1,Radikal Islam,1,Raja Keraton Agung Sejagat,1,rak buku,1,ramadan,9,rapid test,1,rasio defesit apbn,1,rasio utang,2,Redaksi,2,refly harun,1,reformasi,3,Reklamasi,2,relawan gugus tugas covid-19,3,Resep Masakan,1,Resesi,9,resesi ekonomi,1,restoran,1,Reuni 212,4,revitalisasi kawasan monas,1,revitalisasi tim,1,revolusi,1,revolusi sosial,1,rindu biru,1,risma,1,riza patria,3,rob,1,Rocky Gerung,4,rofandi hartanto,4,Rokok,1,roni hidayat,1,rptra krendang,1,Ruang Baca Jakarta,1,Ruang Ketiga Jakarta,1,Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA),1,ruangguru,2,rumah buku,1,rumah sakit darurat corona virus,1,ruu haluan ideologi pancasila (hip),1,saat suharto,1,saat suharto amjad,1,sajak sekolah,1,salman dianda anwar,4,Sam Po Kong,1,samin surasentika,1,Sampah,4,santiga seafood,1,Santri,3,sarah keihl,1,Sastra,26,sate kuah pontianak,1,satpol pp,2,satu dekade gus dur,1,Sayembara Desain,1,sekolah,2,Sekolah Aman Asap,1,sekolah menengah kejuruan (smk),1,sekolah online,1,selempang wisuda,1,semarang hebat sodri,1,sembako,4,seni,3,seniman,3,Sepak Bola,1,Septic Tank,1,Sertifikat Tanah,1,shalat idul fitri,2,sigit dwi saputro,2,silaturahim virtual,1,silaturahmi digital,1,simpul indonesia,1,Singapore Institute of Planners (SIP) Awards 2019,1,Singkong,1,siti khadijah,3,skripsi,1,smait insan cendekia madani,1,smp bakti mulya 400,1,social distancing,1,Soeharto,1,solidaritas,1,Sosok,3,Sri Bintang Pamungkas,1,sri mulyani,8,stay at home,2,sudirman said,1,Sumpah Pemuda,1,Sunan Kalijaga,2,surat izin keluar masuk (sikm),2,surat utang,2,suryadi nomi,4,Susilo Bambang Yudhoyono,1,susu,1,syahrul efendi dasopang,1,syakir daulay,1,syekh abdul qadir al jilani,1,syiah,1,Tafsir,3,tahu gejrot,1,Tahun Baru Islam,1,taipan,1,Taman Impian Jaya Ancol,5,tamsil linrung,2,tan malaka,1,tanaman,1,tandon beras,1,tarekat cinta,1,Tari,2,Tasawuf,2,tatak ujiyati,39,teater,2,teater anak,1,teha edy djohar,1,Teknologi,3,telekomunikasi,1,tenaga medis,2,tendensi kesenian,1,Tentara Nasional Indonesia (TNI),1,terminal rawamangun,1,teten masduki,1,The Wall Steet Journal,1,tim,1,tim gubernur untuk percepatan pembangunan (tgupp),1,tim transisi,1,tiongkok,1,tips,1,tito karnavian,1,tki,1,togel,3,togel semarang,2,Tony Rosyid,33,Toto Santoso,1,toxic parent,1,trans jakarta,1,transaksi berjalan,2,transformasi fpi,1,transportasi,2,tsunami,1,Tumenggung Purbonagoro,1,Tumenggung Purbonegoro,1,tunjangan hari raya (thr),1,Turun Tangan,7,tvri,1,ubedilah badrun,4,uin walisongo semarang,1,ujian nasional (un),3,ular,1,ular sanca,1,umar bin khattab,1,umkm,1,Umroh,1,universitas al azhar mesir,1,Universitas Gajah Mada (UGM),2,Universitas Islam Indonesia (UII),1,universitas jenderal soedirman (unsoed) purwokerto,1,Universitas Suryakancana,1,universitas trunojoyo madura,3,update covid-19,25,urban farming,2,urbanisasi,1,usaha,1,usaha mikro kecil (umk),1,usaha mikro kecil menengah (umkm),7,Ustadz Abdul Somad,1,utang indonesia,1,Utang Luar Negeri Indonesia,3,uu karantina kesehatan,1,ventilator pasien covid-19,1,video,33,virus corona,50,Wakaf,1,Wakaf Produktif,1,wakil gubernud dki jakarta,1,walikota jakarta,1,walikota semarang,1,walkot farm,1,waluyo suryadi,1,Warak Semarang,1,Warak University,4,wardjito soeharso,1,warung kopi,1,wasiat allah,1,Wayang,5,wayang sadat,1,wedang ronde,1,whatshapp,1,wildan syukri niam,10,Wiranto,5,Wisata,8,Wisata Semarang,1,wisma atlet,2,wisuda online,1,work form home,2,ws rendra,2,Yaman,1,yanto,3,yanto phd,6,Youtube,5,yudian wahyudi,2,yusdi usman,3,zakat,2,zakat fitrah,2,zakat uang,1,zeng wei jian,1,Zodiak,1,Zuhud,2,Zulkifli Hasan,1,
ltr
item
Media Jaringan Nasional - Jarnas.id: Wajah Gelap 22 Tahun Reformasi
Wajah Gelap 22 Tahun Reformasi
Diamana aktivis 98 yang dulu lantang berteriak demokrasi, berteriak bela rakyat, berteriak bela hak azasi, berteriak bela konstitusi?
https://1.bp.blogspot.com/-wyIwDjly1N8/XuHSkFDz35I/AAAAAAAACqw/pGQpBjBYLCkKiSMdRuhCg5JiBauglYEKACK4BGAsYHg/w400-h253/Ubedilah%2BBadrun.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-wyIwDjly1N8/XuHSkFDz35I/AAAAAAAACqw/pGQpBjBYLCkKiSMdRuhCg5JiBauglYEKACK4BGAsYHg/s72-w400-c-h253/Ubedilah%2BBadrun.jpg
Media Jaringan Nasional - Jarnas.id
https://www.jarnas.id/2020/06/wajah-gelap-22-tahun-reformasi.html
https://www.jarnas.id/
https://www.jarnas.id/
https://www.jarnas.id/2020/06/wajah-gelap-22-tahun-reformasi.html
true
5480613612464417000
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy